Monday, June 11, 2012

Kelirumologi: Simulation dan 'Diving'

Jika anda adalah penggemar olah raga sepak bola, pasti anda kenal dengan istilah ‘diving’. Istilah tersebut merujuk pada tindakan yang dilakukan oleh seorang pemain untuk mengelabui wasit atau hakim garis sehingga tim yang ia bela diuntungkan oleh keputusan wasit atau hakim garis tadi. Tindakan ‘diving’ termasuk tindak kecurangan (unsportmanship), sehingga pelakunya kerap dicerca dan dihujat, terutama oleh pihak yang merasa dirugikan oleh tindakan tersebut. Dalam beberapa kejadian, bahkan rekan satu tim pelaku ‘diving’ juga ikut mengecam tindakan tersebut. Maka wajar jika banyak penggemar sepak bola yang tidak suka dengan aksi ‘diving’.


Drogba, Pantai Gading vs Argentina, 2006
sumber: (http://whosright.com/)
Tetapi ada sebagian orang yang menganggap tindakan ‘diving’ merupakan tindakan yang manusiawi. Dalam situasi tertentu, seorang pemain sepak bola harus bisa melakukan segala cara untuk dapat memenangkan pertandingan. Salah satu cara tersebut adalah dengan memanfaatkan celah yang terletak pada keterbatasan wasit dalam melihat dan menilai setiap aksi di dalam lapangan, sebelum membuat keputusan. Mereka melihat tindakan tersebut sebagai suatu bentuk seni tipu muslihat (art of deception) untuk mendapatkan keuntungan. Beberapa orang memandang tindakan tersebut sebagai ‘seni teatrikal’ di lapangan hijau. Ada beberapa pemain papan atas dunia yang cukup terkenal dengan aksi ‘diving’nya.


Sumber: (http://www.cartoonstock.com/)
Tidak semua aksi ‘diving’ berujung pada kesuksesan. ‘Sukses’ yang dimaksud adalah keuntungan yang didapat oleh tim yang dibela oleh si pelaku ‘diving’, baik itu tendangan bebas, tendangan penalti, atau dihukumnya pemain lawan dengan kartu kuning atau merah. Ketika si pelaku ‘diving’ harus menghadapi kenyataan bahwa aksinya diketahui oleh wasit, ia harus siap menerima peringatan dari wasit yang biasanya berujung pada hukuman kartu kuning. Ia juga harus siap menghadapi hujatan dari penonton dan pemain tim lawan. Peringatan atau hukuman dari wasit terhadap pelaku ‘diving’ sudah menjadi bagian dalam Laws of the Game yang dikeluarkan oleh FIFA (Fédération International de Football Association).



sumber: (http://www.electriceasel.co.uk)

Tindakan ‘diving’ merujuk pada gerakan berpura-pura jatuh seolah-olah telah dilanggar oleh pemain lawan, dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dari keputusan yang bias yang dikeluarkan wasit karena segala macam keterbatasan. Terminologi ‘diving’ dipergunakan karena gerakan pura-pura jatuh yang dilakukan memiliki kemiripan dengan gerakan yang dilakukan oleh atlet renang ketika melakukan lompatan (dive) start ke dalam air. Secara lebih spesifik, gerakan yang dimaksud adalah gerakan jatuh ke arah depan dengan posisi badan bagian depan terlebih dulu menyentuh tanah. Istilah tersebut muncul di ranah media sebagai bentuk sindiran terhadap pelakunya. Entah siapa oknum yang pertama kali menggunakan istilah tersebut.



Faktanya, FIFA tidak menggunakan istilah tersebut dalam peraturan tertulisnya. Dalam FIFA Laws of the Game, Law 12 – Foul and Misconduct: Cautions for unsporting behaviour, tertulis:
“There are different circumstances when a player must be cautioned for unsporting behaviour, for example if a player: attempts to deceive the referee by feigning injury or pretending to have been fouled (simulation).”

FIFA menyebut tindakan pura-pura jatuh atau ‘diving’ sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya sebagai simulation dengan tujuan ‘to deceive the referee’. Gerakan ‘diving’ merupakan salah satu kategori tindakan dalam pengertian simulation tersebut. Namun, ‘simulasi’ yang dimaksud lebih kepada gerak tubuh berpura-pura, yang termasuk pura-pura jatuh atau pura-pura cedera. Tindakan pura-pura jatuh seolah-olah telah dilanggar pemain lawan tidak terpaku pada gerakan dive semata, namun bisa juga gerakan tubuh yang dramatik, melebih-lebihkan, atau dalam bahasa gaulnya ‘lebay’.

Sebagai contoh, aksi lebay pernah dilakukan oleh Sergio Busquets ketika Barcelona berhadapan dengan Inter Milan di leg 2 semi final Liga Champions Eropa 2009-10. Contoh lain seperti gerakan dramatik Rivaldo yang meringis kesakitan di bagian wajahnya padahal bagian tubuh yang terkena sepakan bola adalah lututnya, di penyisihan Grup C Piala Dunia 2002 antara Brazil melawan Turki. Kedua contoh aksi simulation tadi berujung pada dikartumerahkannya pemain lawan si pelaku, yakni Thiago Motta dan Alpay Ozalan.

Busquets, Barcelona vs Inter, 2010
sumber: (http://2.bp.blogspot.com)
Rivaldo, Brazil vs Turki, 2002
sumber: (http://i.telegraph.co.uk)











 
Contoh lain yang menurut saya termasuk dalam kategori simulation adalah gerakan tubuh dalam perayaan gol yang dilakukan oleh Thierry Henry saat Prancis berhadapan dengan Republik Irlandia di leg 2 play-off kualifikasi Piala Dunia 2010 zona Eropa. Henry sadar bahwa sebelum gol terjadi, dia menggunakan tangannya untuk mengontrol bola. Namun ketika gol terjadi, dia pura-pura tidak tahu bahwa tangannya telah menyentuh bola dengan sengaja sebelumnya dan tetap merayakan gol. Aksi Maradona dalam ‘Gol Tangan Tuhan’ juga bisa dijadikan contoh.

Henry, Prancis vs Rep. Irlandia, 2009
sumber: (http://i.telegraph.co.uk/)

Di kompetisi sepak bola Indonesia, saya masih cukup sering melihat aksi dramatik teatrikal yang dilakukan baik oleh pemain lokal maupun asing. Aksi tersebut umumnya dilakukan di menit-menit akhir pertandingan ketika tim yang dibela oleh si pelaku berada dalam kondisi menguntungkan, entah itu unggul atau imbang (terutama bagi tim tamu), guna mengulur-ulur waktu pertandingan. Sempat beberapa kali saya melihat aksi simulation yang tidak digubris oleh wasit berujung pada protes keras yang dilakukan oleh si pelaku dan rekan-rekan setimnya.

Young, Man.Utd vs Aston Villa, 2012
sumber: (http://i.telegraph.co.uk/)
Aksi simulation yang dilakukan oleh pemain sepak bola di atas lapangan hijau membawa situasi dilematis bagi diri saya pribadi, terutama jika aksi tersebut dilakukan oleh pemain dari tim yang saya bela. Di satu sisi, saya tidak suka dengan aksi tersebut. Namun di sisi lain, saya tidak bisa menolak jika tim yang saya bela diuntungkan oleh keputusan wasit  yang tertipu oleh aksi tersebut.
 

Eboue, Man.Utd vs Arsenal, 2008
sumber: (http://i.dailymail.co.uk/)
Banyak pihak yang menilai sudah seharusnya wasit dibantu oleh teknologi rekaman video untuk membantunya mengambil keputusan. Teknologi tersebut, salah satunya adalah untuk mengurangi aksi simulation di pertandingan sepak bola. Tetapi saya pribadi menganggap aplikasi teknologi tersebut masih belum perlu dilakukan. Bagi saya,  keputusan wasit di lapangan adalah mutlak. Kita harus menghormati keputusan tersebut dengan segala bentuk keterbatasan yang melandasinya. Tindakan simulation memang sering dipandang melanggar nilai-nilai sportivitas, namun tindakan memprotes keras wasit pun termasuk ke dalam tindakan tersebut. Biarkan penonton dan lembaga atau komite perwasitan yang menilai kinerja wasit secara keseluruhan. Namun di dalam pertandingan, apapun dan bagaimanapun keputusan dari wasit, kita harus menghormatinya.

No comments:

Post a Comment