Friday, June 10, 2011

Hubungan Internasional 1.01

*Blogpost ini ditulis setelah secara tidak sengaja saya menemukan catatan lama ketika saya masih mahasiswa baru.. berarti udah hampir 5 tahun.. (-_-“)

Mengapa kita harus mempelajari Hubungan Internasional (HI)? Well, kita lihat aja fakta bahwa seluruh populasi dunia yang hidup dalam negara-negara mandiri yang secara keseluruhan –bersama-sama—membentuk suatu sistem negara yang sifatnya global.

HI muncul karena adanya interaksi antar-individu, di mana salah satu bentuk interaksi yang paling mengemuka adalah konflik, dan konflik yang dibungkus dengan nuansa anarkis pada akhirnya berujung pada pecahnya perang. So, cikal bakal HI adalah mempelajari perang. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul berkisar pada: Kenapa perang bisa pecah? Bagaimana cara menyelesaikannya? Dan sebagainya. Dari sinilah muncul sejarah diplomasi.


Dalam perjanjian Versailles tahun 1919, tercetus ide tentang perdamaian dan gagasan untuk meniadakan perang. Untuk itu perlu ada penelitian-penelitian yang berkaitan dengan HI. Salah satu tokoh HI, yaitu Woodrow Wilson, mengusulkan untuk mendirikan jurusan HI, yang pada akhirnya mulai dilembagakan dalam jurusan International Politics yang merupakan jurusan HI pertama di dunia yang berada di University of Wales, kota Aberyswyth, Inggris. Waktu itu yang jadi ketua jurusan pertama adalah Alfred Zimmern.

HI sebagai suatu studi berbeda dengan HI sebagai fenomena sosial. Sebagai studi, HI dibicarakan atau dikuliahkan di dalam kelas, sedangkan sebagai fenomena sosial, HI dibicarakan di dunia nyata yang efeknya bisa dirasakan secara langsung (contoh: kebijakan moneter IMF terhadap Indonesia) maupun tidak langsung (contoh: akulturasi budaya Barat dalam masyarakat Indonesia) oleh masyarakat. Tapi HI sebagai fenomena sosial juga bisa dibicarakan di dalam kelas. Perbedaan antara HI sebagai studi dan sebagai fenomena sosial dikemukakan oleh Chris Brown (not the singer, obviously…), seorang tokoh HI asal Inggris. Cara membedakannya adalah dari cara penulisannya. Frase HI sebagai studi menggunakan huruf kapital di awal masing-masing katanya (Hubungan Internasional/International Relations), sementara sebagai fenomena sosial ditulis dengan huruf kecil (hubungan internasional/international relations).


HI merupakan sintesis (gabungan) dari berbagai ilmu yang sifatnya konvergen. HI disebut sebagai a bundle of knowledge, dan tidak murni mempelajari politik saja. Permasalahan yang muncul dalam pendefinisian HI, baik sebagai studi maupun fenomena sosial, adalah tidak adanya kesepakatan antar para penstudi HI tentang definisi yang ajeg dari HI itu sendiri. Pendapat yang muncul sangat beragam dan seringkali bertentangan satu sama lain.

Hal lain yang menjadi polemik adalah bahwa HI belum bisa dikatakan sebagai sebuah ilmu. Itu karena HI belum sepenuhnya memenuhi syarat keilmuan, yaitu:
  • Secara ontologis, HI belum mempunyai obyek kajian yang jelas, apakah individu, organisasi, negara, dan lain sebagainya.
  • Secara epistemologis, HI belum memiliki metode yang jelas untuk dipergunakan, apakah metode scientific atau spekulatif.
  • Secara aksiologis, manfaat HI yang cikal bakalnya adalah mempelajari perang dan mencari solusi serta cara penghentiannya, belum bisa dirasakan sampai sekarang.(Hey,, Palestina sama Israel belum kelar-kelar tuh perangnya..)

Ilmu yang merupakan ilmu asal HI ada tiga, yaitu:
  • Sejarah diplomasi, dimana kajiannya dari traktat-traktat, perjanjian, catatan, dokumen negara dari pemimipin-pemimpin negara maupun dari diplomat, khususnya pada saat terjadinya perang.
  • Hukum, muncul secara konvensional misalnya dalam praktik antar-negara seperti pada praktik pengiriman utusan diplomasi atau pertukaran konsul. Selain itu juga terdapat pengkodifikasian (pembukuan) tentang perang dan damai.
  • Filsafat,,,, (yang ini berat untuk dijelaskan secara singkat)
Sementara yang menjadi core subject dalam HI antara lain: sejarah diplomasi, hukum internasional, organisasi internasional, politik luar negeri, politik internasional, dan ekonomi politik internasional.

Dalam mempelajari HI, kita perlu mengetahui isu-isu, yang sifatnya global, seperti: lingkungan, migrasi internasional, gender dan seksualitas, kedaulatan negara, pasar finansial global, konflik kebudayaan: Islam vs Barat, regionalisme dan integrasi, Hak Asasi Manusia, dan lain-lain. Singkatnya, isu HI tuh isu yang menjadi topik yang kita lihat di media-media, khususnya di segmen ‘internasional’, atau yang ada kata-kata ‘internasional’nya.

HI berperan dalam kemampuan globalisasi ekonomi dan perkembangan tantangan lain untuk mempengaruhi tingkat kedaulatan suatu negara. Apakah suatu negara akan terpuruk, atau malah berhasil beradaptasi, secara tradisi teoritisi HI akan mencoba mengevaluasi segala kemungkinan yang dapat terjadi dalam konteks interaksi tatanan negara di dunia internasional.


Sekian dulu penjelasan singkat yang bisa saya paparkan dalam HI 1.01 ini. Lebih lnjut, kalian bisa membaca textbook-textbook HI dengan berbagai macam jenisnya mulai dari buku teori, buku substansi, jurnal, dan lain-lain yang jumlahnya banyak banget.

Class dismissed..!

No comments:

Post a Comment