Thursday, October 25, 2012

Intro to 'It Makes No Sense'

Good news for all Thought of Pramuaji Ajay’s readers!

I’m about to add another topic tag for my blog. Currently, there are My Football Notes, International Relations, Experience, Kelirumologi and English Version. From now on, there’ll be a new addition called “It Makes No Sense”.

What’s “It Makes No Sense” about?
 
 It is about my thought towards something or someone which I think are foolish, ridiculous, and doesn’t make any sense. On making “It Makes No Sense”, I was inspired by James Rolfe’s Cinemassacre.com video tag called “You Know what’s Bullshit!?” Here’s one of his video:


You Know What's Bullshit? Episode 15 - Blu-Ray Cases

The similarity of Rolfe’s version with mine is that we are trying to communicate with viewers about something that we think is foolish, ridiculously misplaced, and doesn’t make any sense by publishing it on the posts.

While the major differences are:
Rolfe’s version is a VIDEOCLIP, while my version is in a WRITTEN BLOG form.
Rolfe’s version is based on something that happened in the United States, while mine is based on something that happened in Indonesia.

For this topic tag, I’ll use English because I think English would be more communicative than Bahasa for this particular topic tag. So, the posts are also going to be tagged with ‘English Version’.
 
I also need to remind you that there’ll be a great opportunity for the posts to be filled with profanity. Actually, I haven’t decided yet whether to censor it or not..... a'ight, I won't..


Regards

Pramuaji Ajay

It Makes No Sense: Security Checkpoint before Entering the SUGBK where The Officers Prohibit Plastic Bottles

I’m a football fan from Jakarta. For quite sometimes I went to the Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK/Gelora Bung Karno Main Stadium) to watch football matches whether if it’s involving Persija or the Indonesian National Team. Everytime I go to SUGBK, I set up a plan in order to enjoy the experience of watching football live at the stadium and the match itself. I’d buy the ticket beforehand, I’d prefer to go there by motorcycle, I’d wear proper jersey, I’d go there early, and occasionally,  I’d be prepared for refreshments.




Just like any other events that involve crowd, watching football in SUGBK also has rules to be obeyed. Among other rules, there’s rule about prohibition to carry dangerous and hazardous material into the stadium. Before entering the stadium, there will be a security checkpoint where police officers check every individual’s carriage including what’s inside their bags and pockets. Usually, there’ll also be a full body check. One is prohibited to bring sharp objects (e.g. knives, scissors, razors, etc.), exploding materials (e.g. firecrackers, flares, etc.), liquors, any kinds of weapon and firearms, etc.

Like a boss!
But hey, there’s another thing that is being prohibited to be brought into the stadium: bottles, plastic bottles, to be precise. They don’t allow plastic bottles inside the stadium because most people tend to throw them into the field by previously filling it with any kinds of liquid (i.e. the remainder of the bottle’s content, water from the toilet, and sometimes, URINE), especially when they’re being pissed by something. Usually done by unsatisfied home crowd, plastic bottle throwing in Indonesian football is very common. I can say that 2 out of 3 matches of Indonesian football are dotted with it. Yep, neither police officers nor players and officials want to be hit by an airborne plastic bottle filled with warm yellow liquid from the tribune. That’s why the officers are prohibiting them also. Sometimes at the checkpoint, they remove the content of the bottle into a small plastic bag before getting rid of the bottle, so that one still can drink inside the stadium.

wolipop.detik.com
But there’s something that makes no sense to me regarding this particular matter. While police officers fetch (almost) every plastic bottle at the checkpoint, inside the tribune, there are many men and (sometimes) women who sell mineral water, in a plastic bottle! So what’s the point of prohibiting it?!
www.jakartafokus.com

I’ve asked several police officers at the checkpoint in various matches I attended about this stuff. I asked them politely: “Pak, kenapa di sini semua botol plastik diambil, sementara di dalam ada banyak yang jual minuman botol plastik?” (Sir, why do you take all plastic bottles here, while inside the tribune there are plenty of people selling them?) Their responses are different. Here’s as I remember them:




Officer 1: “Diam aja. Ga usah banyak omong, kamu!” (Shut up. Stop asking questions!). September 6, 2011, Indonesia v Bahrain, checkpoint @ Gate IV

Officer 2: “(Penjual) yang di dalam itu udah dari tadi siang masuk ke tribun, mereka ngumpet-ngumpet, sementara personil kami terbatas” (They (plastic bottled mineral water sellers) have been inside the tribune since noon, they were hiding, and our personnel is limited). July 28, 2011, Indonesia v Turkmenistan, checkpoint @ Gate VII.

Officer 3: “Yaah, ini hanya formalitas aja, mas..” (well, buddy,, it’s just a formality). May 26, 2012, Persija v Persib, checkpoint @ Gate II.

If the officers want to clean the event from bottle-throwing incident, so why don’t they do it thoroughly? By only prohibiting the supporters from bringing plastic bottles into the tribune, it seems like they’re being suspicious to the supporters while letting other suspect of bottle-throwing incident get away. By doing so, they’d only managed to minimize the opportunity of bottle-throwing incident to occur than to omit it completely, and that’s not a good thing. Even if it’s not much, there are victims of bottle-throwing incident because of this ‘policy’.

To all Indonesian football supporters, let’s clear our sacred football fields from plastic bottles. The point of coming to the stadium is to support your beloved team with respect and sportsmanship. Let’s all not throw bottles into the field no more. Let’s enjoy football wisely. Long live Indonesian football, long live Indonesian supporters!

P.S. If you want to bring beverage into the SUGBK tribune, you should buy a carton-packed drink, so the officers at the checkpoint won’t get rid of them. You DON’T want to buy plastic bottled mineral water inside the tribune because it costs more than usual (common retail price is Rp 1.500 – Rp 2.500, in the tribune it costs more than Rp 5.000)

Friday, September 28, 2012

Blunder Fatal PSSI Kepengurusan Djohar Arifin Husein


www.bolasoccer.com
Dalam permainan sepak bola, ada istilah ‘blunder’ yang berarti kesalahan atau keteledoran yang dibuat oleh seorang pemain hingga tim yang dibela oleh pemain tersebut mengalami kerugian. Beberapa contoh aksi atau tindakan yang termasuk kategori blunder antara lain salah passing, salah kontrol bola, salah antisipasi, salah dribbling, dan lain sebagainya. Dalam blogpost kali ini, saya menggunakan istilah tersebut untuk memberi pandangan saya mengenai sepak terjang kepengurusan Djohar Arifin Husein dalam menjalankan mandat dari masyarakat sepak bola Indonesia untuk mengatur persepakbolaan nasional melalui PSSI.

Dalam masa jabatannya yang baru 1 tahun lebih sedikit, PSSI di bawah kepemimpinan Djohar Arifin bisa dikatakan telah membawa sepak bola Indonesia ke titik nadir. Salah satu indikatornya adalah merosotnya peringkat FIFA Indonesia ke urutan 168 (September 2012). FYI, urutan tersebut berada di bawah negara semenjana seperti Kepulauan Solomon dan Aruba. Indikator lain tentu adalah kekalahan terbesar sepanjang sejarah Indonesia dengan skor 0-10 dari Bahrain pada lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2014 yang terjadi pada leap day tahun ini. Menurut pandangan saya, hal-hal tersebut terjadi karena jajaran pengurus PSSI di bawah kendali Djohar Arifin terlalu banyak melakukan blunder layaknya pemain sepak bola. Namun, blunder yang dimaksud tentu berbeda dengan yang dilakukan oleh pemain sepak bola seperti yang dicontohkan di paragraf awal. Blunder yang dilakukan oleh pengurus PSSI versi Djohar Arifin merujuk pada keputusan dan kebijakan yang mereka keluarkan, yang ternyata justru membuat sepak bola nasional kita mengalami kemunduran.
Blunder pertama yang dilakukan oleh kepengurusan Djohar Arifin adalah pemecatan pelatih Tim Nasional (TimNas) kala itu, Alfred Riedl, dengan alasan yang kurang jelas. Kebijakan ini saya sebut sebagai blunder karena diputuskan secara sepihak dan mendadak.
andreandeoindonesian.blogspot.com
Blunder kedua adalah pencabutan mandat pelaksana kompetisi nasional dari PT. Liga Indonesia ke PT. Liga Prima Indonesia Sportindo melalui Surat Keputusan (SK) Nomor: SKEP/21/JAH/VIII/2011 yang ditandatangani oleh Djohar Arifin pada 22 Agustus 2011. Sama dengan blunder pertama, kebijakan ini saya sebut blunder karena diputuskan secara sepihak dan mendadak. PSSI melepas mandat pelaksana kompetisi dari sebuah badan yang sedang berkembang namun sudah berpengalaman dalam menggulirkan kompetisi ke badan baru yang masih sangat minim pengalaman. Dalam hal ini, PSSI kepengurusan Djohar Arifin terkesan menyalahgunakan wewenangnya dengan melanggar hasil kongres kepengurusan PSSI sebelumnya. Kebijakan ini membawa kesan bahwa PSSI kepengurusan Djohar Arifin ingin sepenuhnya menghapus jejak kepengurusan PSSI sebelumnya, sesuai dengan semangat ‘Revolusi PSSI (RevoluPSSI)’. Tidak seperti blunder sebelumnya, kebijakan yang penuh nuansa politik bisnis ini tidak bisa diterima oleh beberapa pihak yang memiliki kedekatan dengan kepengurusan PSSI sebelumnya. Hal inilah yang menjadi cikal bakal dari berbagai dualisme yang terjadi berlarut-larut hingga sekarang.

Namun, yang menurut saya merupakan blunder fatal yang dilakukan oleh PSSI kepengurusan Djohar Arifin adalah kebijakan mereka yang memaksakan kompetisi musim 2011-12 diikuti oleh 24 klub dengan format 1 wilayah. Pada dasarnya, pelaksanaan kompetisi yang berisikan 24 klub peserta dengan format 1 wilayah bukanlah rencana yang mustahil. Namun rencana tersebut menurut saya tidak masuk akal jika dicanangkan pada situasi dan kondisi klub-klub sepak bola Indonesia sekarang. Dengan jumlah 24 klub, maka akan ada 552 pertandingan yang harus diselesaikan dalam 1 musim. Jika pada umumnya 1 musim berjalan selama 8 hingga 9 bulan, dan jika rencana tersebut betul-betul dijalankan, maka akan ada pemadatan jadwal yang akan menguras tenaga dan materi dari setiap klub peserta. Jika masalah tenaga masih bisa dikondisikan dan dipaksakan, lain halnya masalah materi. Setiap klub harus menjalani 23 pertandingan kandang dan 23 pertandingan tandang. Jumlah tersebut tentu membutuhkan biaya yang sangat besar, terlebih untuk laga away. Belum lagi mempertimbangkan bentang geografis wilayah Indonesia yang luas. Perjalanan klub yang berdomisili di Aceh untuk bertanding di wilayah Papua tentu akan sangat membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Tidak semua klub memiliki sumber daya yang cukup untuk mengarungi kompetisi panjang seperti yang direncanakan oleh PSSI dan PT. LPIS tersebut. Meskipun ada beberapa klub yang sudah mulai melepaskan ketergantungan pada dana APBD dan mampu mandiri secara finansial, namun masih lebih banyak lagi klub yang belum mampu berbuat demikian.

bolasoccer.com
Awal pelaksanaan kompetisi bertajuk Liga Primer Indonesia (LPI) ini pun terkesan sangat dipaksakan. Pertandingan antara Persib melawan Semen Padang yang dilangsungkan di Stadion Si Jalak Harupat pada Oktober 2011 ditengarai dilaksanakan guna menghindari sanksi pencabutan hak berlaga di kompetisi antarklub Asia oleh AFC. Pertandingan yang menjadi partai pembuka LPI tersebut berkesudahan 1-1, dan setelah itu kompetisi mengalami vakum selama 1 bulan lebih berkenaan dengan pelaksanaan SEA Games 2011. Masa jeda tersebut digunakan oleh beberapa klub untuk menghitung-hitung kemungkinan dan konsekuensi yang akan dihadapi jika kompetisi masih berisikan 24 klub. Beberapa klub mulai meyadari bahwa pelaksanaan kompetisi dengan 24 kontestan bukanlah rencana yang masuk akal. Hal tersebut dijadikan tuntutan oleh klub-klub tersebut kepada PSSI dan PT.LPIS untuk kembali pada standar yang telah ditetapkan dalam kongres PSSI pada masa kepengurusan sebelumnya yaitu dengan jumlah 18 klub peserta. Namun hal tersebut tidak diakomodir oleh PSSI dan PT.LPIS. Hingga akhirnya klub-klub yang merasa keberatan dengan jumlah 24 klub peserta memilih untuk hengkang dan kembali kepada standar 18 klub dengan tajuk Liga Super Indonesia (LSI) yang telah berjalan selama 3 musim sebelumnya. Klub-klub yang ikut ambil bagian dalam kompetisi LSI harus menerima konsekuensi dengan dicap ‘ilegal’. Ironisnya, pelaksanaan kompetisi LSI musim 2011-12 tampak berjalan dengan lebih baik jika diukur dari beberapa indikator seperti acceptance masyarakat, pengelolaan jadwal, marketing dan promosi, dan lain sebagainya. Hal inilah yang dijadikan oleh oknum-oknum yang mengaku sebagai penyelamat sepak bola Indonesia sebagai ujung tombak mereka untuk menjegal PSSI kepengurusan Djohar Arifin.

Blunder fatal tersebutlah yang mulai memunculkan dualisme kepengurusan, dualisme kompetisi, hingga sekarang muncul dualisme TimNas. Kekisruhan akibat dualisme-dualisme tersebut mungkin tidak perlu terjadi jika PSSI kepengurusan Djohar Arifin bertindak lebih reasonable dalam menentukan kebijakan, terutama dalam hal pelaksanaan kompetisi. Namun sayangnya hal tersebut sudah sangat terlambat. Blunder fatal PSSI kepengurusan Djohar Arifin semakin terbukti dengan berkaca pada pelaksanaan kompetisi LPI yang akhirnya hanya diikuti 12 klub peserta. Muncul banyak permasalahan seperti tunggakan gaji pemain dan ofisial, keterlambatan pembayaran hadiah pada juara kompetisi, ketidakpuasan klub kontestan, dan lain sebagainya. Bayangkan jika tetap dipaksakan 24 klub. Mungkin bisa-bisa kompetisi berhenti di tengah jalan. Mungkin.

www.merdeka.com
Layaknya seorang pemain sepak bola, PSSI kepengurusan Djohar Arifin telah berkali-kali melakukan blunder. Namun, jika diberi kesempatan, pemain yang melakukan blunder masih bisa bermain lebih baik dan membayar kesalahan yang telah diperbuat sebelumnya. Jika diibaratkan pertandingan sepak bola, PSSI kepengurusan Djohar yang masih menyisakan 3 tahun masa jabatannya baru ‘bertanding’ selama 20 menit lebih sedikit. Sisa ‘pertandingan’ masih cukup panjang dan masih banyak kesempatan untuk berbenah diri dengan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Jangan sampai masyarakat sepak bola Indonesia yang bisa diibaratkan sebagai ‘pelatih’ terpaksa melakukan ‘pergantian’ sebelum ‘pertandingan’ berakhir.

Label Klub Kontestan LPI 2011-12


Kepengurusan PSSI di bawah kendali Djohar Arifin Husein banyak menuai kontroversi melalui tindakan dan kebijakan yang mereka keluarkan. Tindakan dan kebijakan tersebut yang menyulut munculnya dualisme mulai dari dualisme kompetisi, dualisme kepengurusan, hingga dualisme Tim Nasional (TimNas). Dualisme kompetisi memunculkan dua kompetisi liga yaitu Liga Primer Indonesia (LPI) sebagai liga yang sah dan diakui oleh PSSI, dan Liga Super Indonesia (LSI) sebagai liga yang dicap ‘ilegal’ karena tidak diakui oleh PSSI kepengurusan Djohar Arifin Husein. Cukup menarik untuk membahas persaingan antara ‘liga legal’ dan ‘liga ilegal’ ini.

detikpos.net
Melalui Surat Keputusan (SK) Nomor: SKEP/21/JAH/VIII/2011 yang diteken Djohar Arifin pada 22 Agustus 2011, PSSI menunjuk PT. Liga Prima Indonesia Sportindo (PT.LPIS) untuk menggulirkan kompetisi LPI menggantikan PT. Liga Indonesia (PT.LI) yang dicabut mandatnya. Menurut beberapa pihak, keputusan ini terkesan sepihak, mendadak, dan penuh nuansa politik bisnis. Selanjutnya, PSSI dan PT.LPIS mengeluarkan kebijakan bahwa kompetisi LPI musim 2011-12 akan diikuti oleh 24 klub. Oleh beberapa klub, kebijakan tersebut dianggap memberatkan baik secara tenaga maupun biaya. Klub-klub yang merasa keberatan akhirnya memisahkan diri dan memilih untuk melanjutkan kompetisi LSI. Hal ini membuat kompetisi LPI hanya diikuti oleh 12 klub.

Dari keduabelas klub peserta kompetisi LPI 2011-12 tersebut, saya menemukan fakta menarik. Jika seluruh kontestan LPI 2011-12 diberi semacam “label” maka akan ditemukan bahwasannya hanya ada 1 klub yang benar-benar mengikuti kompetisi tersebut. Sementara 11 klub sisanya adalah klub dengan “label” tertentu, yang menurut saya kurang sungguh-sungguh untuk berpartisipasi di kompetisi tersebut. Berikut penjelasannya:

Ada 12 klub kontestan LPI 2011-12. Dari 12 klub tersebut, 3 klub memiliki label “bermasalah”, yaitu Persija LPI, Arema LPI dan PSMS LPI. Ketiga klub ini juga dikenal dengan istilah “klub kloningan” oleh segelintir kalangan. Persija, Arema dan PSMS ikut serta di dua kompetisi, LPI dan LSI. Hal tersebut terjadi dikarenakan adanya dualisme kepengurusan di masing-masing klub, yang hingga blogpost ini dipublikasikan, masih belum jelas klub mana yang lebih berhak menyandang nama. Namun dari sisi dukungan, untuk kasus Persija, tim yang bermain di LPI tidak pernah mendapat dukungan dari kelompok supporter mereka, JakMania. Di paruh musim pertama, kelompok supporter Arema yaitu Aremania sempat bingung antara mendukung tim yang berlaga di LPI atau tim yang berlaga di LSI. Namun kebingungan dalam memberi dukungan tersebut mulai bergerak ke satu arah di paruh musim kedua, yang ditandai dengan pindahnya beberapa pemain andalan mereka dari tim LPI ke tim LSI. Sementara dari kubu PSMS, saya masih belum tahu tim yang mana yang senantiasa didukung oleh pendukung setia PSMS.


Selanjutnya, ada 3 klub yang berlabel “no way back” yaitu Persema, PSM dan Persibo. Ketiga klub tersebut pada kompetisi LSI musim 2010-11 memilih untuk cabut ke kompetisi LPI ketika kompetisi sedang berjalan. Tindakan yang menyebabkan kompetisi LSI musim tersebut hanya diikuti oleh 15 klub. Oleh pengurus PSSI waktu itu, ketiga klub tersebut dihukum dan harus berjuang di divisi rendah jika ingin kembali ke LSI. Sehingga ketiga klub ini mau-tidak-mau harus mengikuti kompetisi LPI musim 2011-12.


Selanjutnya, ada 4 klub yang saya beri label “cari aman”. Klub-klub dengan label tersebut adalah Semen Padang, Persiraja, Persijap dan Persiba (Bantul). Keempat klub tersebut seharusnya berkompetisi di LSI, di mana Semen Padang dan Persijap adalah kontestan tetap musim sebelumnya, dan Persiraja dan Persiba (Bantul) adalah tim promosi dari Divisi Utama. Namun, keempat klub ini memilih untuk “cari aman” dengan mengikuti kompetisi yang sah dan diakui oleh PSSI. Istilah yang lebih halus dari “cari aman”, mungkin adalah “menghormati kompetisi yang sah”, seperti yang disampaikan oleh manajemen Persiba (Bantul) di sini. Setelah kompetisi LPI musim 2011-12 selesai, beberapa klub yang merasa tidak puas dengan pelaksanaan kompetisi tersebut merencanakan untuk “mudik” ke LSI. Di antara klub tersebut ada Semen Padang yang sedang melakukan evaluasi, dan Persijap seperti yang tertulis dalam berita di sini.

Terakhir, ada 1 klub yang saya beri label “aji mumpung”, yaitu Bontang FC. Sebetulnya, klub ini tidak jauh berbeda dengan klub “cari aman”, karena sebelumnya mereka turut serta dalam kompetisi LSI. Namun, klub ini saya sebut “aji mumpung” karena seharusnya mereka terdegradasi ke Divisi Utama untuk musim 2011-12. Kebijakan PT.LPIS dan PSSI yang mengikutsertakan 24 klub, di mana termasuk diantaranya adalah Bontang FC, merupakan  peluang bagi klub tersebut untuk kembali berada di kasta kompetisi tertinggi. Mereka lebih memilih ikut kompetisi LPI di level tertinggi daripada tetap di LSI tapi harus bermain di Divisi Utama.

Dari 12 klub peserta LPI 2011-12, jika dikurangi 11 klub berlabel di atas, hanya menyisakan 1 klub yang benar-benar, sungguh-sungguh, dan “murni” LPI, yaitu Persebaya 1927.

Correct me if I’m wrong, Persebaya 1927 yang berlaga di LPI ini berbeda dengan Persebaya yang ikut kompetisi Divisi Utama PT.LI, sehingga Persebaya 1927 tidak termasuk klub dengan label “bermasalah”. Klub ini adalah klub yang baru berdiri ketika LPI menggulirkan musim pertama di tahun 2011. Klub yang senantiasa didukung oleh Bonek ini tidak memiliki kepentingan dengan PT.LI, dengan LSI, dan dengan pengurus PSSI sebelumnya. Ketika klub-klub lama LPI yang dulu pernah kita dengar seperti Bandung F.C., Tangerang Wolves, Cendrawasih Papua, Real Mataram, dll. hilang entah kemana, Persebaya 1927 tetap mantap berdiri dan melanjutkan kiprahnya di kompetisi LPI 2011-12. Inilah satu-satunya klub yang “LPI banget”.
*Mohon maaf sebesar-besarnya jika isi dari blogpost ini menyinggung pihak-pihak tertentu