Friday, September 14, 2012

Ucapan Terima Kasih

Tulisan berikut adalah isi halaman viii s/d xiii dari skripsi saya yang berjudul "Perkembangan Praktik Transfer Pemain Asing di Kompetisi Sepak Bola Liga Super Indonesia (2008-2010) Melalui Kajian Migrasi Internasional". Kata-kata yang terangkai dalam tulisan berikut merupakan bagian dari tajuk pembuka dengan judul "Ucapan Terima Kasih".



----------

27 Mei 2011 hingga 24 Mei 2012 merupakan kurun waktu yang saya tempuh untuk menyusun karya ini mulai dari pengajuan judul hingga judicium sidang akhir. Dalam kurun waktu tersebut, ada banyak pihak yang terlibat dan memberi kontribusi penting terhadap karya ini.
  • Untuk kedua orang tua saya Meutia Pramono dan Johny Pramono. Karya kecil ini tidak akan pernah bisa membalas kasih sayang yang kalian berikan kepada saya mulai dari saya lahir hingga akhirnya saya berhasil meraih gelar Sarjana. Terima kasih untuk segala hal yang kalian limpahkan dalam hidup saya.
  • Untuk Bapak R.M.T. Nurhasan Affandi dan Bapak Kiagus Zaenal Mubarok, terima kasih atas bimbingan, arahan, serta motivasi yang diberikan dan ditanamkan kepada saya untuk karya ini. Tanpa kehadiran kalian sebagai tim, karya ini hanya akan menjadi narasi dari pemikiran saya yang sangat terbatas. Semoga karya ini mampu memberikan manfaat bagi khalayak.
  •  Untuk Bapak R. Abdul Musyawardi Chalid, selaku pimpinan Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (JHI FISIP UNPAD), yang senantiasa menemani proses pengukuhan karya ini mulai dari seminar penelitian hingga sidang akhir. Terima kasih atas saran dan masukannya yang sangat berguna tidak hanya bagi karya ini, tapi juga bagi saya pribadi selama menjadi mahasiswa.
  • Untuk Bapak Chandra Purnama dan Ibu Neneng Konety, terima kasih atas saran dan masukan yang diberikan dalam seminar usulan penelitian karya ini, sehingga tahap lanjut dari penyusunan karya ini menjadi lebih lancar.
  • Untuk Bapak R. Widya Setyabudi dan Bapak Satriya Wibawa, terima kasih atas koreksi dan rekomendasi yang diberikan untuk karya ini pada sidang akhir, sehingga karya ini menjadi lebih baik ketika dirampungkan.
  • Untuk Bapak Taufik Hidayat, selaku dosen wali, juga untuk seluruh jajaran dosen mata kuliah/staf pengajar JHI FISIP UNPAD yang saya cintai. Terima kasih atas ilmu dan pengalaman yang diberikan selama saya menempuh 12 semester masa belajar, baik di dalam maupun di luar ruang perkuliahan. Saya yakin, ilmu dan pengalaman tersebut akan menjadi sesuatu yang berharga bagi hidup saya kelak.
  • Kepada Bapak Tigorshalom Boboy, Mas Andibachtiar Yusuf, dan Bapak Mursid W.K., terima kasih atas kontribusi penting yang mampu memperkaya informasi dalam karya ini. Dialog dengan anda sekalian juga turut memperluas wawasan saya pribadi mengenai potensi besar sepak bola Indonesia. Semoga karya ini bisa turut membantu perjuangan anda sekalian dan pihak-pihak lain yang peduli akan kemajuan persepakbolaan negara ini, sehingga suatu saat mampu menjadi kebanggaan seluruh rakyat Indonesia.
  • Untuk Akang Soleh Setiawan dan Ibu Siti Rahayu dari Bagian Administrasi JHI FISIP UNPAD. Terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya sehingga segala jenis proses administrasi yang berkaitan dengan karya ini menjadi lebih mudah dan lebih lancar.
  • Kepada “Kelompok Bimbingan Polo Air,” I Gede Anggita B., Fahminoor Mohammad, Mh. Mohammad Irvan Arasy, Reymon Yohanes, Kalvin Situmeang, juga kepada “Kelompok Bimbingan Ciganitri”, Annisa Febiana dan Ganda Permana, semoga ilmu dan pengalaman yang kita peroleh bersama selama proses bimbingan bisa menjadi sesuatu yang berharga untuk hidup kita di masa yang akan datang. Terima kasih atas kerjasamanya dan sukses selalu.
  • Kepada Mabrury Rendyarosa, Arif W. Rachmat, Herdianto Wibowo, Syahri Ramadhan Kusuma, Adityo D. Sudagung, Taufik Hidayat, Nanang Suhariyadi dan Hendro Fhilip, terima kasih atas kesediaannya memberikan bantuan kepada saya perihal transportasi dalam proses penyusunan karya ini. Semoga kebaikan kalian berbalas pahala dari Tuhan Yang Maha Esa. Sukses selalu untuk kalian semua.
  • Kepada Andriarto Andradjati, Amjad Rikzan, Andika Riyadi, Guntoro Chandra, Andris W.A.P., Krisanto Pramudityo, R. Indra Pratama dan Bima Prawira, terima kasih atas dialog serius dan obrolan santai baik tentang skripsi maupun tentang sepak bola. Percakapan-percakapan yang kita lakukan banyak memberi saya inspirasi untuk melanjutkan proses penulisan karya ini. Semoga di masa yang akan datang, kita bisa kembali berdialog.
  • Kepada Bapak Waway Tiswaya dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, terima kasih atas materi dan saran yang diberikan sehingga karya ini menjadi lebih baik dari segi tata bahasa.

Sementara tahun 2006 hingga tahun 2012 adalah kurun waktu yang saya lalui dalam menempuh studi saya di JHI FISIP UNPAD. Selama kurang lebih 6 tahun tersebut, banyak pihak yang telah membantu saya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
  • Untuk rekan-rekan Angkatan 2006 JHI FISIP UNPAD, terima kasih telah menjadikan saya bagian dari kalian. Setiap waktu yang saya lalui bersama kalian akan sangat sulit untuk dilupakan dan akan selalu menjadi kenangan berharga bagi saya kelak. Sukses selalu untuk kalian semua.
  • Untuk semua akang, teteh, dan adik-adik mahasiswa JHI FISIP UNPAD yang telah menghiasi hari-hari saya di kampus. Semoga ilmu dan pengetahuan yang kita serap selama belajar di kampus kita tercinta bisa bermanfaat bagi kehidupan kita di masa yang akan datang. Terima kasih dan sukses selalu.
  • Untuk Widyanthika dan Maulidhya, kakak dan adik saya, terima kasih atas segala bentuk dukungan yang kalian berikan untuk hidup saya. Semoga kita bisa menjadi anak-anak yang selamanya berbakti dan bisa membawa kebanggaan untuk kedua orang tua kita.
  • Untuk Keluarga Besar International Relations Football Club, yang telah memberikan saya kesempatan untuk menyalurkan minat dan bakat saya di bidang sepak bola selama menjadi mahasiswa JHI FISIP UNPAD. Semoga kita tetap selalu dan selamanya bersatu dalam perjuangan. Terima kasih dan sukses selalu.
  • Untuk rekan-rekan serta pemilik rumah kost Blue House 1, Jatinangor, tempat di mana saya memperoleh berbagai macam kenangan dari tahun 2006 hingga tahun 2012. Terima kasih banyak atas waktu dan pengalaman yang kita lewati bersama berada di bawah satu atap.
  • Untuk rekan-rekan sesama mahasiswa, juga untuk seluruh jajaran staf dan karyawan FISIP UNPAD. Waktu yang saya lalui selama menjalani masa belajar menjadi lebih mudah dan menyenangkan berkat kehadiran kalian. Terima kasih banyak dan sukses selalu untuk kalian.
  • Kepada rekan-rekan sesama interpreter untuk trade mission Solvay Business School – Vrije Universiteit Brussel, tahun 2011. Terima kasih atas kesempatan dan pengalaman kerja yang sangat berharga bagi saya. Sukses selalu untuk kalian semua.
  • Untuk rekan-rekan di Kelompok Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) UNPAD Kecamatan Parongpong, Desa Cihanjuang Rahayu Tahun 2009. Terima kasih atas kebersamaan yang kita lalui selama menjalani program KKNM. Semoga suatu saat kita bisa berkumpul  kembali dan berkunjung ke desa yang kita cintai tersebut. Sukses selalu untuk kita semua.
  • Untuk rekan-rekan di Inter Club Indonesia-Moratti Regional Bandung, khususunya di Chapter Jatinangor, terima kasih atas kesempatan yang kalian berikan sehingga saya bisa berbagi pengalaman menarik perihal klub sepak bola kesayangan saya Internazionale Milano F.C.
  • Untuk rekan-rekan dan staf pengajar di TK dan SD Ar-Rahman Motik, Setiabudi, Jakarta tahun 1992-2000, SLTP 1. Barunawati, Petamburan, Jakarta tahun 2000-2003, SMAN 78, Kemanggisan, Jakarta tahun 2003-2006. Terima kasih atas ilmu dan pengalaman yang dilimpahkan kepada saya selama saya menempuh masa belajar sebagai siswa.

Sebenarnya masih banyak lagi nama-nama serta pihak yang telah membantu saya, baik selama saya menyelesaikan karya ini maupun selama saya menempuh masa studi sebagai mahasiswa. Namun karena berbagai macam keterbatasan, saya mohon maaf karena tidak bisa mencantumkan nama-nama dan pihak tersebut dalam lembaran-lembaran ini. Tidak lupa juga saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada anda sekalian yang namanya tidak dapat dicantumkan dalam karya ini. Semoga kebaikan dari anda sekalian kepada saya berbalas pula dengan kebaikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
 
Jatinangor, 9 Juli 2012

 Pramuaji

Friday, September 7, 2012

FIFA's Less Concern for The D-Side

 "Offense sells tickets. Defense wins championships" -an aphorism

FIFA Ballon d'Or
thebdtoday.com

Since 1991, FIFA has been awarding the Player of the Year award annually for men professional football players. Starting in 2001, women players also have been awarded the same title. In 2010, FIFA started giving an award for best coach, both for men and women. The winner of these award is chosen by voting from coaches and national team captains of the FIFA association members, and also journalist representations from all over the world. The award unified with the Ballon d’Or award of France Football in 2009, making it the FIFA Ballon d’Or henceforth.


Several notable players has won the award like Ronaldo, Zinedine Zidane, Cristiano Ronaldo, and for the last 3 editions, Lionel Messi. I honestly believe that those players deserve the title for their performance in their respective years. But if you see the list of the winners, you’ll realize that there’s very few names of player with defensive role. Only Lotthar Matthaus in 1991 and Fabio Cannavaro in 2006 who have won the award as defensive players. Including this year’s edition, the other 18 editions are for offensive players. It would be no surprise if the following editions are still going on this way.

In my opinion, FIFA is showing less appreciation for defensive player in terms of award. They don’t even have an award for best goalkeeper of the year. They’ve been only awarding the best goalkeeper for their performance in the World Cup tournament with Lev Yashin Award (1994-2006) and the Golden Glove (2010 henceforth). Every year, the International Federation of Football History and Statistics (IFFHS) is the one who has been giving the Best Goalkeeper of the Year award since 1987.

The primary purpose in football is to score goals. It’s obvious because the winner of a football match is the side who scored more goals. But in order to secure the victory, the teams not only need to score goals but also have to manage themselves not to be conceded by goals. This is where the goalkeepers AND the defensive players come in handy. They have to perform the art of defense such as sliding tackle, diving headers, overhead kicks, and other techniques in order to secure their side from conceding.

Franz Beckenbauer
football-dreams.blogspot.com
Bobby Moore
yaelida.wordpress.com




For quite sometimes, defensive players also took part on scoring goals, just like any offensive players. It’s very common for players with defensive role to score goals. Marco Materazzi’s header in the 2006 World Cup final is a carbon copy of Zidane’s header in the 1998 World Cup final. Sinisa Mihajlovic has scored plenty of goals from free kick situation, just like Cristiano Ronaldo. But have you ever seen the likes of Lionel Messi or Fernando Torres making a very elegant and very calculated sliding tackle like the one Bobby Moore did to Jairzinho in the 1966 World Cup? I don’t think so.

I believe that defensive players have more pressure in the game. They have to be focused every minute, not only to defend but occasionally to attack. When they lose their focus and make a mistake, all the fingers will be pointed at them for the blame. My friend once said, “If you’re a striker, you missed 10 chances and scored 1 goal, everybody will remember that 1 goal. But if you’re a defender or a goalkeeper, you made 10 saves/important clearances and then you made 1 mistake that makes your team conceded a goal, then everybody will remember that 1 mistake.” For some reason, I personally agree with that.

Skrtel's blooper led to City's equalizer
reuters



Fabio Cannavaro - 2006
zimbio.com
The reason why Matthaus and Cannavaro won the awards was because of their exceptional and consistent performance, while the other offensive players were being inconsistent throughout their respective years. Cannavaro showed a remarkable display which brought Italy to their 4th World Cup title in 2006 while players like Ronaldinho, Kaká, or Ronaldo were struggling for consistency in their performances. Some said that the award was a “consolation gift” because Zidane was awarded the Player of the Tournament although he didn’t win the World Cup and did an unsportmanship conduct when he headbutted down Materazzi in the final.





Sliding tackle
presidiosports.com
Other sports like basketball or American football have their own way to honor players with defensive roles. The NBA even has a selection for all-defensive team, although it’s almost impossible to be applied in football. But at least they’ve been showing their appreciation to the D-side. Why can’t FIFA? Almost every Player of the Year winners won the majority of the vote because of their roles in offensive play like goals scored or assists. So, should FIFA considered to have an award for defensive players, they could base the nominees by their roles in defensive play like clean tackles, saves/clearances, fouls committed, pass interceptions, distance covered or any other statistical unit. The only ‘thing’ FIFA does to appreciate the defensive players is the Team of The Year selection, where there are 1 goalkeeper, 2 center halves, 2 full backs and (usually) 1 defensive midfielder. Still, they’re not giving any particular award for them.

All players in a football team are important in terms of offense and defense. In order to win the game they have to synchronize both offense and defense well. For some fans, defensive football is boring, frustrating, and repulsive. But there are others who think that it is effective and efficient. I think FIFA has to be more attentive and appreciative with the defensive players, NOT to distinguish them with the offensive side, but to encourage them and to give them motivation.

I wonder, if FIFA had an award for this year’s Best Defensive Player, who do you think would that be?




Monday, August 27, 2012

Sepak Bola dan Hubungan Internasional

Thoughts terkait: Olah Raga dan Hubungan Internasional
                               Sepak Bola Dipolitisas? >> Wajar!
                               Sepak Bola: Olah Raga Paling Digemari di Dunia...Mengapa?

Era lintas batas yang ditandai dengan kemajuan pesat di bidang teknologi informasi, komunikasi dan transportasi membuat batas-batas wilayah tradisional negara menjadi semakin semu. Interaksi antar aktor yang melewati batas-batas negara semakin meningkat baik dari segi kuantitas, kualitas maupun intensitas. Dengan meningkatnya interaksi yang dimaksud, maka muncul juga isu-isu serta fenomena-fenomena baru yang sifatnya global. Jika sebelumnya isu maupun fenomena tersebut hanya berkutat pada tataran high politics seperti militer dan menyangkut perang dan damai, kini hal-hal tersebut menjadi semakin bervariasi. Isu ekonomi mulai sering muncul dengan fenomena seperti kelangkaan sumber daya atau krisis moneter. Begitu juga dengan isu lainnya termasuk isu lingkungan, sosial, budaya, gender, bahkan agama. Dinamika Hubungan Internasional menjadi semakin kompleks dan intense ketika memasuki era lintas batas yang lebih kita kenal sebagai globalisasi ini.

sites.duke.edu
Di era globalisasi, muncul fenomena-fenomena baru yang memiliki unsur lintas-batas dengan sifat global. Fenomena-fenomena tersebut muncul karena adanya keterlibatan dari banyak aktor lintas-batas dan memiliki lingkup pengaruh yang sangat luas. Salah satu contoh dari fenomena tersebut adalah sepak bola. Sebagai cabang olah raga dengan jumlah penggemar paling besar dari banyak negara di dunia, sepak bola muncul sebagai salah satu fenomena Hubungan Internasional terkini.

blogs.worldbank.org
Kita tidak akan bisa menganggapnya sebagai fenomena Hubungan Internasional jika kita terpaku pada pemahaman bahwa sepak bola hanyalah sebuah permainan selama 2 x 45 menit di atas lapangan. Namun, jika kita juga melibatkan kejadian-kejadian lain yang terjadi di luar lapangan pertandingan, maka akan muncul kompleksitas dengan ciri-ciri global seperti yang dimaksud sebelumnya. Dari kompleksitas tersebut, akan muncul pemahaman bahwa sepak bola memiliki lingkup pengaruh yang luas dan melibatkan banyak aktor lintas batas negara. Pada akhirnya, kompleksitas tersebutlah yang menjadi alasan mengapa sepak bola bisa menjadi suatu fenomena tersendiri dalam Hubungan Internasional.

Sepak bola bisa menjadi barometer ideal bagi hubungan internasional, ketegangan antar bangsa, ambisi dan reputasi nasional, serta kesejahteraan penduduk di suatu negara. Hal tersebut dikarenakan sepak bola memiliki keterkaitan erat dengan berbagai macam aspek seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, gender, agama, dan lain-lain. Keterkaitan sepak bola dengan aspek-aspek tersebut bisa dilihat dari kejadian-kejadian yang pernah atau sedang terjadi di dunia sepak bola, yang umumnya berlangsung di luar lapangan. Tidak jarang kejadian-kejadian di luar lapangan tersebut berpengaruh pada penampilan pemain atau jalannya pertandingan di lapangan.

www.dw.de
Sepak bola dengan politik hampir tidak bisa dipisahkan. Popularitasnya sebagai cabang olah raga yang digemari oleh banyak orang membuat sepak bola menjadi ‘lahan’ yang menguntungkan bagi orang-orang atau kelompok-kelompok yang berkepentingan. Sudah beberapa kali sepak bola dijadikan sebagai jembatan menuju tampuk kekuasaan. Contohnya seperti yang pernah dilakukan oleh Silvio Berlusconi (mantan Perdana Menteri Italia) dan Gerhard Schroeder (mantan Kanselir Jerman). Akan tetapi, sepak bola perlu dijaga dari pengaruh politik yang berlebihan yang justru merugikan banyak pihak. Sepak bola memang sangat mengundang untuk dipolitisasi, namun jangan sampai permainan kotor dalam praktik politik mencederai nilai-nilai sportivitas dan merugikan kepentingan banyak orang.



ultimatesoccercoaching.com
Ketika dunia memasuki era globalisasi, sepak bola telah bertransformasi dari yang sebelumnya hanya sekedar aktivitas menjadi identitas, lalu kemudian menjadi komoditas. Sepak bola menjadi lahan bisnis yang mampu menghadirkan profit. Praktik bisnis internasional bisa kita lihat melalui sepak bola. Ketika kita menonton pertandingan sepak bola, tampak papan-papan iklan dari berbagai macam produk perusahaan multinasional. Hal tersebut merupakan salah satu contoh bahwa sepak bola telah menjadi komoditas unggul yang mampu menggerakkan roda industri. Kita bisa mempelajari aplikasi dari mikroekonomi dari bagaimana suatu klub sepak bola beroperasi mengelola neraca finansialnya. Sementara aplikasi dari makroekonomi bisa kita pelajari dari bagaimana suatu negara menyelenggarakan event sepak bola internasional seperti Piala Dunia.

Sepak bola telah memunculkan budayanya sendiri yang ditolerir oleh masyarakat (setidaknya oleh mereka yang menggemari sepak bola). Contoh dari ‘produk’ budaya sepak bola yang bisa dilihat dalam keseharian adalah dari cara orang berpakaian. Anda pasti pernah melihat seseorang mengenakan kostum sepak bola dalam beraktivitas, meskipun orang tersebut tidak sedang bermain sepak bola. Contoh lainnya bisa dilihat dari hal-hal yang lebih spesifik dan memiliki keterkaitan dengan pelaksanaan pertandingan sepak bola. Salah satunya adalah chants yang dinyanyikan guna memberi dukungan kepada tim yang bertanding. Lagu Glory Glory Man.United sekarang selalu dinyanyikan oleh pendukung Manchester United tidak hanya di Inggris, tetapi di banyak tempat di banyak negara terutama ketika tim tersebut bertanding. Selain itu ada juga koreografi massal bertajuk Poznan atau Mexican Wave yang dilakukan dan melibatkan sebagian besar penonton yang hadir di stadion.

http://bpmredux.files.wordpress.com

whoateallthepies.tv
Dari sudut pandang sosial, sepak bola telah menjadi bagian yang terintegrasi dengan kehidupan sekelompok orang di suatu wilayah. Sekelompok orang tersebut gemar mengidentifikasikan dirinya ke dalam suatu identitas yang sifatnya komunal. Identitas tersebut salah satunya dimunculkan melalui klub sepak bola, yang umumnya terjadi dalam unit wilayah kecil. Contohnya seperti klub FC Barcelona yang sudah menjadi identitas warga wilayah Katalan di Spanyol, sekaligus menjadi simbol perlawanan terhadap pemerintah pusat yang berbasis di wilayah Castilla y Leon. Sementara untuk unit wilayah yang lebih luas, identitas tersebut dimunculkan melalui tim nasional sepak bola suatu negara. Kesebelasan tim nasional sudah menjadi representasi utuh suatu negara ketika bertanding dengan tim nasional negara lain. Ketika ada pertandingan antarnegara, bendera yang dikibarkan adalah bendera negara masing-masing tim, bukan logo asosiasi sepak bola-nya. Lagu yang dikumandangkan sebelum pertandingan dimulai adalah lagu kebangsaan nasional negara, bukan himne asosiasi sepak bola-nya. Sepak bola telah menjadi identitas sekaligus simbol yang merepresentasikan sense of belonging seseorang.

sbnation.com
Kita mengenal FIFA sebagai induk organisasi asosiasi/federasi sepak bola negara-negara di dunia. Hingga saat ini tercatat ada 208 negara yang menjadi anggota FIFA. Jumlah tersebut melebihi jumlah negara anggota PBB. Tidak jauh berbeda dengan PBB, di FIFA setiap negara juga memiliki perwakilannya masing-masing. Namun, perwakilan negara di FIFA hanya fokus pada hal-hal yang berkaitan dengan sepak bola. Semua pertandingan sepak bola di seluruh dunia menuruti regulasi yang ditetapkan oleh FIFA. Di bawah FIFA, terdapat 6 konfederasi sepak bola berdasarkan wilayah geografis kontinental yakni Amerika Utara (CONCACAF), Amerika Selatan (CONMEBOL), Eropa (UEFA), Asia (AFC), Afrika (CAF), dan Oseania (OFC). Keenam konfederasi tersebut membawahi asosiasi-asosiasi sepak bola yang menjadi anggotanya masing-masing. Hierarki keorganisasian sepak bola ini bisa kita pelajari dengan kajian organisasi internasional dan regionalisme.

soccer-worldwide.com
Ajang Piala Dunia merupakan tempat terjadinya berbagai macam isu dan fenomena Hubungan Internasional. Dalam proses pemilihan negara penyelenggara, terjadi praktik diplomasi yang intensitas kepentingannya tidak kalah dengan yang terjadi di PBB. Negara yang ditunjuk sebagai penyelenggara pun mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam berbagai hal guna menjadi tuan rumah yang baik. Karena kesuksesan penyelenggaraan event sebesar Piala Dunia sangat berpengaruh terhadap citra suatu negara di mata dunia. Sementara 207 negara lainnya berjuang demi mendapatkan tempat di putaran final Piala Dunia yang diselenggarakan setiap 4 tahun sekali. Negara-negara tersebut bukan hanya mengejar prestasi tetapi juga gengsi nasional di mata internasional. Ketika Piala Dunia berlangsung, kita bisa lihat atau setidaknya merasakan bagaimana banyak orang di seluruh penjuru dunia ikut larut dalam euforia yang dimunculkan oleh pertandingan-pertandingan yang dilaksanakan. Orang-orang tersebut berasal dari negara berbeda dengan latar belakang yang juga berbeda, namun mereka bisa sama-sama menikmati sajian Piala Dunia.


ehow.com
Sepak bola senantiasa mengiringi laju peradaban manusia di muka bumi. Asal-usul sepak bola bermula di banyak negara dengan istilah dan peraturannya masing-masing. Sampai pada akhirnya di akhir abad ke-19, bangsa Inggris merumuskan peraturan-peraturan yang menjadi dasar permainan sepak bola yang kita kenal sekarang. Melalui fenomena migrasi internasional, sepak bola yang telah dikodifikasi oleh bangsa Inggris menyebar ke banyak negara yang kemudian mengadopsi peraturan-peraturan tersebut. Tanpa adanya fenomena migrasi internasional, sepak bola tidak akan berkembang. Selain membantu penyebaran ilmu dan aturan-aturan dasar, migrasi internasional juga membantu perjalanan dan perkembangan karir seorang pesepakbola. Pemain seperti Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo mungkin tidak akan sehebat dan sepopuler sekarang jika karir mereka hanya berkutat di negara asalnya masing-masing.
goal.blogs.nytmes.com
cultureofsoccer.com










Sepak bola bisa sangat membantu studi dan penelitian Hubungan Internasional. Hal tersebut bergantung pada ‘kacamata’ apa yang digunakan oleh si penstudi/peneliti. Sepak bola bisa menjadi semacam ‘kotak’ yang menyimpan berbagai macam kasus, isu atau fenomena yang bisa diteliti, jika si penstudi/peneliti menggunakan ‘kacamata’ Hubungan Internasional untuk melihat sepak bola. Di sisi lain, Sepak bola juga bisa menjadi suatu model yang aplikatif bagi penelitian Hubungan Internasional baik secara teoritis maupun secara praksis, jika si penstudi/peneliti menggunakan ‘kacamata’ sepak bola dalam melihat Hubungan Internasional.

Sebagai studi yang menjadi generalisasi dari berbagai macam ilmu, Hubungan Internasional bersifat sangat terbuka bagi berbagai macam hal termasuk sepak bola. Dalam perkembangannya, sepak bola dan Hubungan Internasional menunjukkan hubungan simbiosis mutualisme. Popularitas sepak bola sebagai cabang olah raga yang sangat digemari oleh banyak orang di seluruh dunia tidak lepas dari fenomena hubungan internasional. Di sisi lain, sepak bola membawa manfaat besar bagi perkembangan studi Hubungan Internasional terutama dalam konteks penelitian. Sepak bola juga menjadi media dan instrumen yang sederhana namun sangat efektif dan tepat guna dalam dinamika interaksi antar negara dan antar aktor dalam sistem internasional. Di era globalisasi sekarang, sepak bola dan Hubungan Internasional sudah menjadi dua hal yang tak terpisahkan.

Referensi:
Bairner, Alan. Sport, Nationalism, and Globalization. European and North American Perspectives. State University of New York Press, 2001.
Foer, Franklin. How Soccer Explains the World. An Unlikely Theory of Globalization. New York: HarperCollins, 2008.
Irpani, Edy. 1001 Fenomena Sepak Bola. Bandung: Oase Media, 2010.
Natakusumah, Arief. Drama Itu Bernama Sepak Bola. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2008.
Pamungkas, Tri Septa Agung. Kamus Pintar Sepak Bola. Malang: Penerbit Dioma, 2008.
Sorek, Tamir. Nasionalisme Palestina di Lapangan Hijau. Sejarah Ringkas Sepak Bola Arab-Palestina di Wilayah Kekuasaan Israel. Terjemahan Tim Kepik Ungu. Depok: Penerbit Kepik Ungu. 2010.
Wahyudi, Hari. The Land of Hooligans. Kisah Para Perusuh Sepak Bola. Yogyakarta: Garasi, 2009.