Friday, September 28, 2012

Label Klub Kontestan LPI 2011-12


Kepengurusan PSSI di bawah kendali Djohar Arifin Husein banyak menuai kontroversi melalui tindakan dan kebijakan yang mereka keluarkan. Tindakan dan kebijakan tersebut yang menyulut munculnya dualisme mulai dari dualisme kompetisi, dualisme kepengurusan, hingga dualisme Tim Nasional (TimNas). Dualisme kompetisi memunculkan dua kompetisi liga yaitu Liga Primer Indonesia (LPI) sebagai liga yang sah dan diakui oleh PSSI, dan Liga Super Indonesia (LSI) sebagai liga yang dicap ‘ilegal’ karena tidak diakui oleh PSSI kepengurusan Djohar Arifin Husein. Cukup menarik untuk membahas persaingan antara ‘liga legal’ dan ‘liga ilegal’ ini.

detikpos.net
Melalui Surat Keputusan (SK) Nomor: SKEP/21/JAH/VIII/2011 yang diteken Djohar Arifin pada 22 Agustus 2011, PSSI menunjuk PT. Liga Prima Indonesia Sportindo (PT.LPIS) untuk menggulirkan kompetisi LPI menggantikan PT. Liga Indonesia (PT.LI) yang dicabut mandatnya. Menurut beberapa pihak, keputusan ini terkesan sepihak, mendadak, dan penuh nuansa politik bisnis. Selanjutnya, PSSI dan PT.LPIS mengeluarkan kebijakan bahwa kompetisi LPI musim 2011-12 akan diikuti oleh 24 klub. Oleh beberapa klub, kebijakan tersebut dianggap memberatkan baik secara tenaga maupun biaya. Klub-klub yang merasa keberatan akhirnya memisahkan diri dan memilih untuk melanjutkan kompetisi LSI. Hal ini membuat kompetisi LPI hanya diikuti oleh 12 klub.

Dari keduabelas klub peserta kompetisi LPI 2011-12 tersebut, saya menemukan fakta menarik. Jika seluruh kontestan LPI 2011-12 diberi semacam “label” maka akan ditemukan bahwasannya hanya ada 1 klub yang benar-benar mengikuti kompetisi tersebut. Sementara 11 klub sisanya adalah klub dengan “label” tertentu, yang menurut saya kurang sungguh-sungguh untuk berpartisipasi di kompetisi tersebut. Berikut penjelasannya:

Ada 12 klub kontestan LPI 2011-12. Dari 12 klub tersebut, 3 klub memiliki label “bermasalah”, yaitu Persija LPI, Arema LPI dan PSMS LPI. Ketiga klub ini juga dikenal dengan istilah “klub kloningan” oleh segelintir kalangan. Persija, Arema dan PSMS ikut serta di dua kompetisi, LPI dan LSI. Hal tersebut terjadi dikarenakan adanya dualisme kepengurusan di masing-masing klub, yang hingga blogpost ini dipublikasikan, masih belum jelas klub mana yang lebih berhak menyandang nama. Namun dari sisi dukungan, untuk kasus Persija, tim yang bermain di LPI tidak pernah mendapat dukungan dari kelompok supporter mereka, JakMania. Di paruh musim pertama, kelompok supporter Arema yaitu Aremania sempat bingung antara mendukung tim yang berlaga di LPI atau tim yang berlaga di LSI. Namun kebingungan dalam memberi dukungan tersebut mulai bergerak ke satu arah di paruh musim kedua, yang ditandai dengan pindahnya beberapa pemain andalan mereka dari tim LPI ke tim LSI. Sementara dari kubu PSMS, saya masih belum tahu tim yang mana yang senantiasa didukung oleh pendukung setia PSMS.


Selanjutnya, ada 3 klub yang berlabel “no way back” yaitu Persema, PSM dan Persibo. Ketiga klub tersebut pada kompetisi LSI musim 2010-11 memilih untuk cabut ke kompetisi LPI ketika kompetisi sedang berjalan. Tindakan yang menyebabkan kompetisi LSI musim tersebut hanya diikuti oleh 15 klub. Oleh pengurus PSSI waktu itu, ketiga klub tersebut dihukum dan harus berjuang di divisi rendah jika ingin kembali ke LSI. Sehingga ketiga klub ini mau-tidak-mau harus mengikuti kompetisi LPI musim 2011-12.


Selanjutnya, ada 4 klub yang saya beri label “cari aman”. Klub-klub dengan label tersebut adalah Semen Padang, Persiraja, Persijap dan Persiba (Bantul). Keempat klub tersebut seharusnya berkompetisi di LSI, di mana Semen Padang dan Persijap adalah kontestan tetap musim sebelumnya, dan Persiraja dan Persiba (Bantul) adalah tim promosi dari Divisi Utama. Namun, keempat klub ini memilih untuk “cari aman” dengan mengikuti kompetisi yang sah dan diakui oleh PSSI. Istilah yang lebih halus dari “cari aman”, mungkin adalah “menghormati kompetisi yang sah”, seperti yang disampaikan oleh manajemen Persiba (Bantul) di sini. Setelah kompetisi LPI musim 2011-12 selesai, beberapa klub yang merasa tidak puas dengan pelaksanaan kompetisi tersebut merencanakan untuk “mudik” ke LSI. Di antara klub tersebut ada Semen Padang yang sedang melakukan evaluasi, dan Persijap seperti yang tertulis dalam berita di sini.

Terakhir, ada 1 klub yang saya beri label “aji mumpung”, yaitu Bontang FC. Sebetulnya, klub ini tidak jauh berbeda dengan klub “cari aman”, karena sebelumnya mereka turut serta dalam kompetisi LSI. Namun, klub ini saya sebut “aji mumpung” karena seharusnya mereka terdegradasi ke Divisi Utama untuk musim 2011-12. Kebijakan PT.LPIS dan PSSI yang mengikutsertakan 24 klub, di mana termasuk diantaranya adalah Bontang FC, merupakan  peluang bagi klub tersebut untuk kembali berada di kasta kompetisi tertinggi. Mereka lebih memilih ikut kompetisi LPI di level tertinggi daripada tetap di LSI tapi harus bermain di Divisi Utama.

Dari 12 klub peserta LPI 2011-12, jika dikurangi 11 klub berlabel di atas, hanya menyisakan 1 klub yang benar-benar, sungguh-sungguh, dan “murni” LPI, yaitu Persebaya 1927.

Correct me if I’m wrong, Persebaya 1927 yang berlaga di LPI ini berbeda dengan Persebaya yang ikut kompetisi Divisi Utama PT.LI, sehingga Persebaya 1927 tidak termasuk klub dengan label “bermasalah”. Klub ini adalah klub yang baru berdiri ketika LPI menggulirkan musim pertama di tahun 2011. Klub yang senantiasa didukung oleh Bonek ini tidak memiliki kepentingan dengan PT.LI, dengan LSI, dan dengan pengurus PSSI sebelumnya. Ketika klub-klub lama LPI yang dulu pernah kita dengar seperti Bandung F.C., Tangerang Wolves, Cendrawasih Papua, Real Mataram, dll. hilang entah kemana, Persebaya 1927 tetap mantap berdiri dan melanjutkan kiprahnya di kompetisi LPI 2011-12. Inilah satu-satunya klub yang “LPI banget”.
*Mohon maaf sebesar-besarnya jika isi dari blogpost ini menyinggung pihak-pihak tertentu

Thursday, September 20, 2012

Wasit dan Tindakan Anarkistis di Lapangan Sepak Bola

Thought terkait: Perbaikan Kualitas Wasit dan Hakim Garis di Indonesia

Coba perhatikan kedua gambar berikut

                                    Gambar 1                                                                                      Gambar 2
                               goalshighlights.com                                                                              radarsukabumi.com

Persamaan dari kedua gambar di atas adalah sama-sama mendeskripsikan tindakan anarkistis berupa penyerangan yang dilakukan oleh pemain terhadap wasit. Di sisi lain, muncul beberapa poin yang menjadi pembeda kedua gambar di atas, di antaranya: 
  1. Gambar 1 dilakukan oleh Luisao (Benfica) terhadap Christian Fischer; Gambar 2 dilakukan oleh Herman (Deltras) terhadap Novari Iksan.
  2. Gambar 1 terjadi dalam pertandingan persahabatan antara Benfica melawan Fortuna Dusseldorf pada 11 Agustus 2012; Gambar 2 terjadi dalam lanjutan kompetisi Liga Super Indonesia 2011-2012 antara Persib melawan Deltras.
  3. Pada gambar 1, Luisao menerjang wasit untuk memprotes keputusan wasit yang menganggap Javi Garcia, rekan Luisao, melanggar pemain Fortuna; Pada gambar 2, Herman menghajar wasit karena sebelumnya wasit memberikan hadiah penalti kepada Persib setelah Herman dengan jelas melanggar pemain Persib di dalam kotak penalti.
  4. Akhir dari kejadian di gambar 1, Luisao dijatuhi hukuman larangan bermain selama 2 bulan yang berlaku secara internasional dan sejumlah denda; Akhir dari kejadian di gambar 2, Herman “dihadiahi” larangan bermain 1 pertandingan atas kartu merah yang dia terima, selang beberapa hari dia sudah bisa bermain lagi.

Dalam Law of the Game FIFA Law 12 – Fouls and Misconduct pada artikel “Showing dissent by word or action” disebutkan bahwa 
A player who is guilty of dissent by protesting (verbally or non-verbally) against a referee’s decision must be cautioned. The captain of a team has no special status or privileges under the laws of the Game but he has a degree of responsibility for the behavior of his team.” 
Jelas menurut aturan tersebut bahwa keputusan wasit tidak bisa diganggu gugat oleh pemain ataupun ofisial. Adapun jika wasit diharuskan untuk mengubah suatu keputusan, perubahan tersebut didasarkan atas diskusi dan rekomendasi dengan asisten wasit (Law 5 – The Referee, artikel “Decisions of the Referee”). Seburuk atau semerugikan apapun, pemain tidak diperbolehkan untuk memprotes keputusan wasit, apalagi sampai menyerang wasit.

Di kompetisi sepak bola Indonesia, insiden penyerangan atau penganiayaan terhadap wasit bisa dikatakan cukup sering terjadi. Jika dirata-rata, setidaknya ada lebih dari 3 kali insiden terjadi dalam satu musim. Wasit dipukul, ditendang, digebuk, disundul, digampar, dikepret, didorong kesana-kemari bahkan sampai diuber-uber seperti maling pernah terjadi di kancah sepak bola nasional. Terkait insiden yang dimaksud, sebagian orang menyalahkan kualitas wasit dalam membuat keputusan dan memimpin pertandingan. Sebagian lagi menyalahkan para pemain atau ofisial yang terlibat karena tidak bisa menjaga perilakunya di depan wasit.

Saya akui memang kualitas wasit Indonesia masih sangat kurang. Buktinya, tidak ada satupun wasit kita yang ditugaskan untuk memimpin pertandingan level internasional seperti kualifikasi Piala Dunia atau Liga Champions Asia. Paling banter, wasit kita bertugas di Piala AFF. Dalam tayangan pertandingan liga lokal yang disiarkan di televisi, saya juga sering melihat kesalahan-kesalahan wasit yang cukup fatal sehingga mengundang tindak anarkistis dari para pemain atau ofisial yang dirugikan. Namun bagi saya pribadi, hal tersebut tetap bukanlah sebuah alasan bagi terjadinya tindak anarkistis terhadap wasit.

sobatbola.com
Saya beranggapan bahwa sering munculnya tindak anarkistis pemain atau ofisial terhadap wasit adalah karena kurangnya kontrol. Pertama, kurangnya kontrol dari otoritas dan pelaksana kompetisi dalam melakukan seleksi wasit. Pihak aparatur kompetisi mulai dari asosiasi sampai pelaksana perlu melakukan seleksi ketat terhadap calon wasit berdasarkan kualitas dan kecakapannya dalam memimpin pertandingan. FIFA bekerjasama dengan AFC senantiasa mengadakan kursus dan tes sertifikasi wasit secara berkala. Dalam hal ini, aparatur kompetisi sebaiknya mengirim wasit-wasit lokal untuk mengikuti kursus dan tes sertifikasi tersebut, sehingga dapat diketahui siapa-siapa saja yang pantas untuk memimpin pertandingan di kompetisi yang mereka jalankan.

Kedua, kurangnya kontrol dari pihak klub terhadap pelaku tindakan anarkistis terhadap wasit baik yang dilakukan oleh pemain atau ofisial. Klub seharusnya sadar bahwa merekalah yang membayar gaji karyawannya yang dalam hal ini termasuk pemain dan ofisial. Klub akan merugi jika tindakan dan perilaku karyawannya menyebabkan mereka dijatuhi hukuman. Klub yang harus bertanggung jawab atas setiap tindakan dan perilaku yang diperbuat oleh para karyawannya tersebut. Oleh karena itu, klub harus mampu mengingatkan para karyawannya untuk berperilaku baik, di dalam maupun di luar lapangan. Salah satu caranya adalah dengan menambahkan klausul pada kontrak yang berkaitan dengan tindakan anarkistis.
images.maxson1962.multiply.com
Ketiga, kurangnya kontrol emosi dari para pelaku tindakan anarkistis terhadap wasit. Para pemain dan ofisial perlu menjaga emosinya, khususnya ketika pertandingan berlangsung. Mereka perlu menyadari bahwa tindakan anarkistis tidak akan mengubah hasil akhir pertandingan yang menyatakan tim yang mereka bela kalah. Bagi saya pribadi, tindakan anarkistis tersebut justru mempertegas posisi mereka sebagai pecundang. Mereka harus tahu bahwa tidaklah mudah menjadi seorang wasit. Tindakan anarkistis yang mereka lakukan terhadap wasit seolah-olah mereka bisa bertugas lebih baik jika mereka ditunjuk sebagai wasit, padahal belum tentu demikian. Mereka juga perlu menyadari bahwa pelampiasan emosi secara anarkistis tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi juga pihak klub.
Seharusnya setiap pemain maupun ofisial tahu jika pertandingan yang akan mereka jalani disiarkan melalui saluran televisi baik secara langsung maupun tunda. Dengan begitu, seharusnya mereka lebih bisa mengontrol perilakunya, setidaknya selama pertandingan masih disiarkan. Karena setiap aksi mereka ditonton oleh banyak orang, termasuk oleh keluarga dan kerabat dekatnya.

Keempat, kurangnya kontrol dari otoritas dan pelaksana kompetisi dalam memberi sangsi terhadap pelaku tindakan anarkistis terhadap wasit. Dari penjelasan gambar di atas tampak jelas bahwa aparatur dan pelaksana kompetisi tidak berinisiatif untuk menghukum pelaku tindak anarkistis secara tegas. Menurut saya, pelaku tindak anarkistis di lapangan sepak bola harus diberi hukuman berat berupa denda dan larangan bermain supaya si pelaku merasa kapok. Namun yang sudah beberapa kali terjadi di sepak bola nasional kita adalah sebaliknya. Aparatur dan pelaksana kompetisi seolah enggan memberi hukuman karena berbagai alasan.

Untuk menciptakan iklim kompetisi yang sehat dan bermanfaat bagi pembentukan Tim Nasional yang tangguh, butuh kinerja maksimal dari seluruh pihak. Diantara berbagai bidang yang dipekerjakan dan program yang dicanangkan, ikhwal perwasitan tidak bisa dianggap remeh. Para wasit yang ditunjuk untuk bertugas memimpin suatu pertandingan dalam suatu kompetisi hendaknya memiliki kualitas yang terjamin. Di sisi lain, klub beserta otoritas dan operator kompetisi perlu menekankan kepada para pemain dan ofisial untuk menghormati keputusan wasit dalam pertandingan. Adapun protes dan keberatan yang diajukan seharusnya melalui prosedur yang sewajarnya tanpa harus bertindak anarkistis. Makanya, perlu ada kontrol yang ketat dari pihak-pihak yang berkaitan secara langsung dalam suatu pertandingan, yang juga melibatkan pihak-pihak lain dalam menggulirkan kompetisi.

Friday, September 14, 2012

Ucapan Terima Kasih

Tulisan berikut adalah isi halaman viii s/d xiii dari skripsi saya yang berjudul "Perkembangan Praktik Transfer Pemain Asing di Kompetisi Sepak Bola Liga Super Indonesia (2008-2010) Melalui Kajian Migrasi Internasional". Kata-kata yang terangkai dalam tulisan berikut merupakan bagian dari tajuk pembuka dengan judul "Ucapan Terima Kasih".



----------

27 Mei 2011 hingga 24 Mei 2012 merupakan kurun waktu yang saya tempuh untuk menyusun karya ini mulai dari pengajuan judul hingga judicium sidang akhir. Dalam kurun waktu tersebut, ada banyak pihak yang terlibat dan memberi kontribusi penting terhadap karya ini.
  • Untuk kedua orang tua saya Meutia Pramono dan Johny Pramono. Karya kecil ini tidak akan pernah bisa membalas kasih sayang yang kalian berikan kepada saya mulai dari saya lahir hingga akhirnya saya berhasil meraih gelar Sarjana. Terima kasih untuk segala hal yang kalian limpahkan dalam hidup saya.
  • Untuk Bapak R.M.T. Nurhasan Affandi dan Bapak Kiagus Zaenal Mubarok, terima kasih atas bimbingan, arahan, serta motivasi yang diberikan dan ditanamkan kepada saya untuk karya ini. Tanpa kehadiran kalian sebagai tim, karya ini hanya akan menjadi narasi dari pemikiran saya yang sangat terbatas. Semoga karya ini mampu memberikan manfaat bagi khalayak.
  •  Untuk Bapak R. Abdul Musyawardi Chalid, selaku pimpinan Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (JHI FISIP UNPAD), yang senantiasa menemani proses pengukuhan karya ini mulai dari seminar penelitian hingga sidang akhir. Terima kasih atas saran dan masukannya yang sangat berguna tidak hanya bagi karya ini, tapi juga bagi saya pribadi selama menjadi mahasiswa.
  • Untuk Bapak Chandra Purnama dan Ibu Neneng Konety, terima kasih atas saran dan masukan yang diberikan dalam seminar usulan penelitian karya ini, sehingga tahap lanjut dari penyusunan karya ini menjadi lebih lancar.
  • Untuk Bapak R. Widya Setyabudi dan Bapak Satriya Wibawa, terima kasih atas koreksi dan rekomendasi yang diberikan untuk karya ini pada sidang akhir, sehingga karya ini menjadi lebih baik ketika dirampungkan.
  • Untuk Bapak Taufik Hidayat, selaku dosen wali, juga untuk seluruh jajaran dosen mata kuliah/staf pengajar JHI FISIP UNPAD yang saya cintai. Terima kasih atas ilmu dan pengalaman yang diberikan selama saya menempuh 12 semester masa belajar, baik di dalam maupun di luar ruang perkuliahan. Saya yakin, ilmu dan pengalaman tersebut akan menjadi sesuatu yang berharga bagi hidup saya kelak.
  • Kepada Bapak Tigorshalom Boboy, Mas Andibachtiar Yusuf, dan Bapak Mursid W.K., terima kasih atas kontribusi penting yang mampu memperkaya informasi dalam karya ini. Dialog dengan anda sekalian juga turut memperluas wawasan saya pribadi mengenai potensi besar sepak bola Indonesia. Semoga karya ini bisa turut membantu perjuangan anda sekalian dan pihak-pihak lain yang peduli akan kemajuan persepakbolaan negara ini, sehingga suatu saat mampu menjadi kebanggaan seluruh rakyat Indonesia.
  • Untuk Akang Soleh Setiawan dan Ibu Siti Rahayu dari Bagian Administrasi JHI FISIP UNPAD. Terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya sehingga segala jenis proses administrasi yang berkaitan dengan karya ini menjadi lebih mudah dan lebih lancar.
  • Kepada “Kelompok Bimbingan Polo Air,” I Gede Anggita B., Fahminoor Mohammad, Mh. Mohammad Irvan Arasy, Reymon Yohanes, Kalvin Situmeang, juga kepada “Kelompok Bimbingan Ciganitri”, Annisa Febiana dan Ganda Permana, semoga ilmu dan pengalaman yang kita peroleh bersama selama proses bimbingan bisa menjadi sesuatu yang berharga untuk hidup kita di masa yang akan datang. Terima kasih atas kerjasamanya dan sukses selalu.
  • Kepada Mabrury Rendyarosa, Arif W. Rachmat, Herdianto Wibowo, Syahri Ramadhan Kusuma, Adityo D. Sudagung, Taufik Hidayat, Nanang Suhariyadi dan Hendro Fhilip, terima kasih atas kesediaannya memberikan bantuan kepada saya perihal transportasi dalam proses penyusunan karya ini. Semoga kebaikan kalian berbalas pahala dari Tuhan Yang Maha Esa. Sukses selalu untuk kalian semua.
  • Kepada Andriarto Andradjati, Amjad Rikzan, Andika Riyadi, Guntoro Chandra, Andris W.A.P., Krisanto Pramudityo, R. Indra Pratama dan Bima Prawira, terima kasih atas dialog serius dan obrolan santai baik tentang skripsi maupun tentang sepak bola. Percakapan-percakapan yang kita lakukan banyak memberi saya inspirasi untuk melanjutkan proses penulisan karya ini. Semoga di masa yang akan datang, kita bisa kembali berdialog.
  • Kepada Bapak Waway Tiswaya dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, terima kasih atas materi dan saran yang diberikan sehingga karya ini menjadi lebih baik dari segi tata bahasa.

Sementara tahun 2006 hingga tahun 2012 adalah kurun waktu yang saya lalui dalam menempuh studi saya di JHI FISIP UNPAD. Selama kurang lebih 6 tahun tersebut, banyak pihak yang telah membantu saya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa.
  • Untuk rekan-rekan Angkatan 2006 JHI FISIP UNPAD, terima kasih telah menjadikan saya bagian dari kalian. Setiap waktu yang saya lalui bersama kalian akan sangat sulit untuk dilupakan dan akan selalu menjadi kenangan berharga bagi saya kelak. Sukses selalu untuk kalian semua.
  • Untuk semua akang, teteh, dan adik-adik mahasiswa JHI FISIP UNPAD yang telah menghiasi hari-hari saya di kampus. Semoga ilmu dan pengetahuan yang kita serap selama belajar di kampus kita tercinta bisa bermanfaat bagi kehidupan kita di masa yang akan datang. Terima kasih dan sukses selalu.
  • Untuk Widyanthika dan Maulidhya, kakak dan adik saya, terima kasih atas segala bentuk dukungan yang kalian berikan untuk hidup saya. Semoga kita bisa menjadi anak-anak yang selamanya berbakti dan bisa membawa kebanggaan untuk kedua orang tua kita.
  • Untuk Keluarga Besar International Relations Football Club, yang telah memberikan saya kesempatan untuk menyalurkan minat dan bakat saya di bidang sepak bola selama menjadi mahasiswa JHI FISIP UNPAD. Semoga kita tetap selalu dan selamanya bersatu dalam perjuangan. Terima kasih dan sukses selalu.
  • Untuk rekan-rekan serta pemilik rumah kost Blue House 1, Jatinangor, tempat di mana saya memperoleh berbagai macam kenangan dari tahun 2006 hingga tahun 2012. Terima kasih banyak atas waktu dan pengalaman yang kita lewati bersama berada di bawah satu atap.
  • Untuk rekan-rekan sesama mahasiswa, juga untuk seluruh jajaran staf dan karyawan FISIP UNPAD. Waktu yang saya lalui selama menjalani masa belajar menjadi lebih mudah dan menyenangkan berkat kehadiran kalian. Terima kasih banyak dan sukses selalu untuk kalian.
  • Kepada rekan-rekan sesama interpreter untuk trade mission Solvay Business School – Vrije Universiteit Brussel, tahun 2011. Terima kasih atas kesempatan dan pengalaman kerja yang sangat berharga bagi saya. Sukses selalu untuk kalian semua.
  • Untuk rekan-rekan di Kelompok Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) UNPAD Kecamatan Parongpong, Desa Cihanjuang Rahayu Tahun 2009. Terima kasih atas kebersamaan yang kita lalui selama menjalani program KKNM. Semoga suatu saat kita bisa berkumpul  kembali dan berkunjung ke desa yang kita cintai tersebut. Sukses selalu untuk kita semua.
  • Untuk rekan-rekan di Inter Club Indonesia-Moratti Regional Bandung, khususunya di Chapter Jatinangor, terima kasih atas kesempatan yang kalian berikan sehingga saya bisa berbagi pengalaman menarik perihal klub sepak bola kesayangan saya Internazionale Milano F.C.
  • Untuk rekan-rekan dan staf pengajar di TK dan SD Ar-Rahman Motik, Setiabudi, Jakarta tahun 1992-2000, SLTP 1. Barunawati, Petamburan, Jakarta tahun 2000-2003, SMAN 78, Kemanggisan, Jakarta tahun 2003-2006. Terima kasih atas ilmu dan pengalaman yang dilimpahkan kepada saya selama saya menempuh masa belajar sebagai siswa.

Sebenarnya masih banyak lagi nama-nama serta pihak yang telah membantu saya, baik selama saya menyelesaikan karya ini maupun selama saya menempuh masa studi sebagai mahasiswa. Namun karena berbagai macam keterbatasan, saya mohon maaf karena tidak bisa mencantumkan nama-nama dan pihak tersebut dalam lembaran-lembaran ini. Tidak lupa juga saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada anda sekalian yang namanya tidak dapat dicantumkan dalam karya ini. Semoga kebaikan dari anda sekalian kepada saya berbalas pula dengan kebaikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
 
Jatinangor, 9 Juli 2012

 Pramuaji

Friday, September 7, 2012

FIFA's Less Concern for The D-Side

 "Offense sells tickets. Defense wins championships" -an aphorism

FIFA Ballon d'Or
thebdtoday.com

Since 1991, FIFA has been awarding the Player of the Year award annually for men professional football players. Starting in 2001, women players also have been awarded the same title. In 2010, FIFA started giving an award for best coach, both for men and women. The winner of these award is chosen by voting from coaches and national team captains of the FIFA association members, and also journalist representations from all over the world. The award unified with the Ballon d’Or award of France Football in 2009, making it the FIFA Ballon d’Or henceforth.


Several notable players has won the award like Ronaldo, Zinedine Zidane, Cristiano Ronaldo, and for the last 3 editions, Lionel Messi. I honestly believe that those players deserve the title for their performance in their respective years. But if you see the list of the winners, you’ll realize that there’s very few names of player with defensive role. Only Lotthar Matthaus in 1991 and Fabio Cannavaro in 2006 who have won the award as defensive players. Including this year’s edition, the other 18 editions are for offensive players. It would be no surprise if the following editions are still going on this way.

In my opinion, FIFA is showing less appreciation for defensive player in terms of award. They don’t even have an award for best goalkeeper of the year. They’ve been only awarding the best goalkeeper for their performance in the World Cup tournament with Lev Yashin Award (1994-2006) and the Golden Glove (2010 henceforth). Every year, the International Federation of Football History and Statistics (IFFHS) is the one who has been giving the Best Goalkeeper of the Year award since 1987.

The primary purpose in football is to score goals. It’s obvious because the winner of a football match is the side who scored more goals. But in order to secure the victory, the teams not only need to score goals but also have to manage themselves not to be conceded by goals. This is where the goalkeepers AND the defensive players come in handy. They have to perform the art of defense such as sliding tackle, diving headers, overhead kicks, and other techniques in order to secure their side from conceding.

Franz Beckenbauer
football-dreams.blogspot.com
Bobby Moore
yaelida.wordpress.com




For quite sometimes, defensive players also took part on scoring goals, just like any offensive players. It’s very common for players with defensive role to score goals. Marco Materazzi’s header in the 2006 World Cup final is a carbon copy of Zidane’s header in the 1998 World Cup final. Sinisa Mihajlovic has scored plenty of goals from free kick situation, just like Cristiano Ronaldo. But have you ever seen the likes of Lionel Messi or Fernando Torres making a very elegant and very calculated sliding tackle like the one Bobby Moore did to Jairzinho in the 1966 World Cup? I don’t think so.

I believe that defensive players have more pressure in the game. They have to be focused every minute, not only to defend but occasionally to attack. When they lose their focus and make a mistake, all the fingers will be pointed at them for the blame. My friend once said, “If you’re a striker, you missed 10 chances and scored 1 goal, everybody will remember that 1 goal. But if you’re a defender or a goalkeeper, you made 10 saves/important clearances and then you made 1 mistake that makes your team conceded a goal, then everybody will remember that 1 mistake.” For some reason, I personally agree with that.

Skrtel's blooper led to City's equalizer
reuters



Fabio Cannavaro - 2006
zimbio.com
The reason why Matthaus and Cannavaro won the awards was because of their exceptional and consistent performance, while the other offensive players were being inconsistent throughout their respective years. Cannavaro showed a remarkable display which brought Italy to their 4th World Cup title in 2006 while players like Ronaldinho, Kaká, or Ronaldo were struggling for consistency in their performances. Some said that the award was a “consolation gift” because Zidane was awarded the Player of the Tournament although he didn’t win the World Cup and did an unsportmanship conduct when he headbutted down Materazzi in the final.





Sliding tackle
presidiosports.com
Other sports like basketball or American football have their own way to honor players with defensive roles. The NBA even has a selection for all-defensive team, although it’s almost impossible to be applied in football. But at least they’ve been showing their appreciation to the D-side. Why can’t FIFA? Almost every Player of the Year winners won the majority of the vote because of their roles in offensive play like goals scored or assists. So, should FIFA considered to have an award for defensive players, they could base the nominees by their roles in defensive play like clean tackles, saves/clearances, fouls committed, pass interceptions, distance covered or any other statistical unit. The only ‘thing’ FIFA does to appreciate the defensive players is the Team of The Year selection, where there are 1 goalkeeper, 2 center halves, 2 full backs and (usually) 1 defensive midfielder. Still, they’re not giving any particular award for them.

All players in a football team are important in terms of offense and defense. In order to win the game they have to synchronize both offense and defense well. For some fans, defensive football is boring, frustrating, and repulsive. But there are others who think that it is effective and efficient. I think FIFA has to be more attentive and appreciative with the defensive players, NOT to distinguish them with the offensive side, but to encourage them and to give them motivation.

I wonder, if FIFA had an award for this year’s Best Defensive Player, who do you think would that be?