Wednesday, June 15, 2011

Football dan Soccer

Di Indonesia, olah raga tendang-menendang bola umumnya dikenal dengan sebutan “sepak bola”. Di luar negeri, cabang olah raga ini mayoritas disebut “football”, namun ada beberapa negara yang menyebutnya dengan sebutan “soccer”. Blogpost saya kali ini akan menjelaskan mengapa ada dikotomi dalam penyebutan cabang olah raga yang paling digemari oleh masyarakat dunia ini.

Pertama-tama, mari kita bahas istilah “football”. Jika ditarik rentang sejarahnya, “football” adalah sebutan bagi permainan yang dimainkan oleh para petani pada zaman pertengahan di Eropa, khususnya di wilayah Inggris. Istilah “football” merupakan gabungan dari kata “foot” dan “ball”. Pada saat itu, istilah tersebut merujuk pada permainan bola yang dimainkan dengan cara berlari menggunakan kaki atau dalam Bahasa Inggrisnya “on foot”. Istilah tersebut digunakan sebagai bentuk “balasan” dari para petani untuk permainan-permainan lain yang dimainkan oleh kaum aristokrat, yang umumnya dimainkan dengan menunggang kuda (horse-riding). Menurut istilah tersebut “foot” ditekankan pada “anggota tubuh yang digunakan/digerakkan ketika membawa (carrying) bola”. Permainan “football” pada masa itu melarang pemain untuk menendang bola.

Sekitar tahun 1825-26, seorang penulis Inggris bernama William Hone mengutip perkataan seorang komentator sosial bernama Sir Frederick Morton Eden untuk mendeskripsikan “football” yang dimainkan oleh sekelompok petani di daerah Scone, Perthshire. Dalam kutipannya, “football” dideskripsikan sebagai berikut:
“Pemain yang mendapatkan bola, memegang bola tersebut di tangannya, lalu dibawa lari sampai bola tersebut direbut oleh pemain dari kubu lawan. Jika si pemain yang membawa bola bisa melewati hadangan dari pemain lawan yang berusaha merebut bola tersebut dari tangannya, pemain tersebut terus berlari. Jika tidak, si pemain bisa melempar bolanya, kecuali jika bola tersebut direbut oleh pemain dari pihak lawan, namun tidak ada yang diperbolehkan untuk menendang bola.”
Itulah cikal-bakal dari “football”, yang kemudian menarik perhatian para pemuda, khususnya di kalangan mahasiswa. Para mahasiswa di Inggris sering bermain “football” untuk mengisi waktu luang. Hingga pada suatu waktu, para mahasiswa tersebut menyadari perlunya aturan-aturan dasar untuk membuat permainan ini semakin menarik. Beberapa universitas di Inggris memiliki aturannya masing-masing. Di antara aturan-aturan tersebut, yang paling terkenal adalah aturan Cambridge Rules yang disepakati oleh beberapa perwakilan universitas dari Eton, Harrow, Rugby, Winchester dan Shrewsbury pada tahun 1848. Cambridge Rules inilah yang menjadi cikal bakal permainan rugby yang kita kenal sekarang. Permainan “football” a la Cambridge Rules pada saat itu sudah menyebar ke beberapa negara lain termasuk Amerika Serikat.

Football yang merujuk pada permainan sepak bola yang kita kenal sekarang, muncul pada tahun 1863, tepatnya ketika Football Association (FA) terbentuk melalui pertemuan yang diadakan di Freemason’s Tavern di Great Queen Street, Inggris, dengan melibatkan beberapa perwakilan dari dari beberapa klub “football”. Pada pertemuan pertama, hanya perwakilan dari Charterhouse yang hadir. Pada pertemuan tersebut, diajukan peraturan-peraturan baru untuk “football” yang diantaranya melarang pemain membawa bola dengan tangan dan larangan terhadap pemain untuk menjegal pemain lawan yang sedang menggiring bola. Pada pertemuan-pertemuan selanjutnya, beberapa perwakilan yang akhirnya hadir menolak peresmian peraturan baru tersebut. Hingga pada akhirnya di pertemuan terakhir, disetujui 13 buah peraturan baru yang mendasari peraturan-peraturan umum dan menjadi cikal bakal permainan sepak bola yang kita kenal sekarang. Untuk menandingi FA dengan football-nya, beberapa perwakilan yang sebelumnya menolak peraturan yang disetujui oleh FA membentuk Rugby Football Union pada tahun 1871, yang mengadopsi aturan tradisional “football”. Sejak saat itu, di Inggris, istilah yang merujuk pada permainan “football” mulai dikenal dengan sebutan Rugby.


Sementara itu, istilah “soccer” mulai lahir ketika football dan rugby sudah sering dimainkan di wilayah Britania Raya. Pada saat itu, football atau sepak bola yang kita kenal sekarang direpresentasikan dengan sebutan association football, yang berasal dari sejarah berdirinya FA. Sementara Rugby Football Union mulai mempopulerkan “football” dengan sebutan rugby. Istilah “soccer” sendiri pertama kali digunakan oleh mahasiswa Oxford University bernama Charles Wreford-Brown, sekitar tahun 1890-an ketika seorang temannya bertanya pada dia, “Are you a rugger?”. Karena Wreford-Brown adalah pemain sepak bola (association football), ia menjawab, “No, I’m soccer.” “Soccer” di sini adalah abreviasi khas Oxford untuk menyingkat association football. Mulai saat itulah “soccer” dikenal luas di Britania Raya untuk menyebut association football atau sepak bola yang kita kenal sekarang, meskipun pada kenyataannya istilah football masih lebih sering digunakan. Jika sekarang kita mencari penjelasan tentang sepak bola di situs wikipedia berbahasa Inggris dengan keyword ‘soccer’, maka secara otomatis kita akan diarahkan pada artikel berjudul “association football”.



Sejak tahun 1890-an hingga tahun 1970-an, masyarakat di negara-negara Britania Raya masih sering menggunakan istilah “soccer” untuk menyebut permainan sepak bola. Ketika North American Football Association (NAFA) membawa sepak bola ke Amerika Serikat sekitar tahun 1970-an, istilah “soccer” menjadi populer di kalangan masyarakat di negara-negara Amerika Utara. Hal tersebut juga dikarenakan di Amerika Serikat, permainan “American Football” sudah lebih sering dimainkan dan lebih terkenal dibanding sepak bola. Demi menjaga asal-usul istilah football, masyarakat Britania Raya mulai meninggalkan istilah “soccer” dan lebih sering menggunakan istilah football.



Yang terjadi setelah itu adalah persaingan antara dua permainan dan dua imperium. Sepak bola atau association football atau football atau soccer berkembang di seluruh dunia sementara American Football jangkauannya tidak seluas itu. Hal ini kemungkinan besar dikarenakan imperium Britania Raya sangat gencar menyebarkan nilainya sementara Amerika Serikat tidak. Jika sepak bola atau association football atau soccer banyak dimainkan di banyak negara mulai dari negara sebesar China PR hingga negara sekecil Trinidad-Tobago, American Football hanya dimainkan di beberapa negara dan hanya populer di Amerika Serikat saja.

Sekarang, dari 45 negara anggota FIFA yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi atau bahasa utamanya, hanya Amerika Serikat dan Kanada saja yang menggunakan kata “soccer” dalam penamaan asosiasi sepak bola-nya. Sementara 43 sisanya menggunakan football dalam nama asosiasi sepak bola-nya. Bahkan di tahun 2005, asosiasi sepak boola Australia yang sebelumnya menggunakan kata soccer, mengubah nama asosiasinya dengan kata football demi mengikuti penggunaan terminologi secara internasional. Hal ini juga diikuti oleh New Zealand di tahun 2006.



Jadi intinya, football dan soccer jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, sama-sama bermakna ‘sepak bola’. Yang membedakannya adalah penggunaannya saja. Jika football yang berasal dari Inggris penggunaannya lebih umum dan lebih banyak digunakan, soccer hanya umum digunakan di Amerika Serikat dan Kanada, meskipun ada beberapa negara seperti Jepang, Australia (julukan bagi tim nasional Australia masih ‘socceroos’), Afrika Selatan, yang mempergunakan soccer untuk merujuk pada sepak bola.

Mengapa Amerika Serikat lebih memilih menggunakan soccer? Menurut saya adalah karena ‘keangkuhan’ mereka yang ingin dipandang berbeda daripada yang lain, serta kebanggaan mereka terhadap olah raga ‘tradisional’ mereka yaitu American Football. Padahal secara logika, ball yang digunakan dalam American Football sama sekali tidak berbentuk ball (bola).



Sumber:
Irpani, Edy. 2010. 1001 Fenomena Sepak bola. Bandung: Penerbit Oase Media.
Kuper, Simon dan Stefan Szymanski. 2010. Soccernomics. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Wahyudi, Hari. 2009. The Land of the Hooligans. Kisah Para Perusuh Sepak Bola. Yogyakarta: Garasi.

http://en.wikipedia.org/wiki/American_football
http://en.wikipedia.org/wiki/Association_football
http://en.wiktionary.org/wiki/football
http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_American_football

Friday, June 10, 2011

Hubungan Internasional 1.01

*Blogpost ini ditulis setelah secara tidak sengaja saya menemukan catatan lama ketika saya masih mahasiswa baru.. berarti udah hampir 5 tahun.. (-_-“)

Mengapa kita harus mempelajari Hubungan Internasional (HI)? Well, kita lihat aja fakta bahwa seluruh populasi dunia yang hidup dalam negara-negara mandiri yang secara keseluruhan –bersama-sama—membentuk suatu sistem negara yang sifatnya global.

HI muncul karena adanya interaksi antar-individu, di mana salah satu bentuk interaksi yang paling mengemuka adalah konflik, dan konflik yang dibungkus dengan nuansa anarkis pada akhirnya berujung pada pecahnya perang. So, cikal bakal HI adalah mempelajari perang. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul berkisar pada: Kenapa perang bisa pecah? Bagaimana cara menyelesaikannya? Dan sebagainya. Dari sinilah muncul sejarah diplomasi.


Dalam perjanjian Versailles tahun 1919, tercetus ide tentang perdamaian dan gagasan untuk meniadakan perang. Untuk itu perlu ada penelitian-penelitian yang berkaitan dengan HI. Salah satu tokoh HI, yaitu Woodrow Wilson, mengusulkan untuk mendirikan jurusan HI, yang pada akhirnya mulai dilembagakan dalam jurusan International Politics yang merupakan jurusan HI pertama di dunia yang berada di University of Wales, kota Aberyswyth, Inggris. Waktu itu yang jadi ketua jurusan pertama adalah Alfred Zimmern.

HI sebagai suatu studi berbeda dengan HI sebagai fenomena sosial. Sebagai studi, HI dibicarakan atau dikuliahkan di dalam kelas, sedangkan sebagai fenomena sosial, HI dibicarakan di dunia nyata yang efeknya bisa dirasakan secara langsung (contoh: kebijakan moneter IMF terhadap Indonesia) maupun tidak langsung (contoh: akulturasi budaya Barat dalam masyarakat Indonesia) oleh masyarakat. Tapi HI sebagai fenomena sosial juga bisa dibicarakan di dalam kelas. Perbedaan antara HI sebagai studi dan sebagai fenomena sosial dikemukakan oleh Chris Brown (not the singer, obviously…), seorang tokoh HI asal Inggris. Cara membedakannya adalah dari cara penulisannya. Frase HI sebagai studi menggunakan huruf kapital di awal masing-masing katanya (Hubungan Internasional/International Relations), sementara sebagai fenomena sosial ditulis dengan huruf kecil (hubungan internasional/international relations).


HI merupakan sintesis (gabungan) dari berbagai ilmu yang sifatnya konvergen. HI disebut sebagai a bundle of knowledge, dan tidak murni mempelajari politik saja. Permasalahan yang muncul dalam pendefinisian HI, baik sebagai studi maupun fenomena sosial, adalah tidak adanya kesepakatan antar para penstudi HI tentang definisi yang ajeg dari HI itu sendiri. Pendapat yang muncul sangat beragam dan seringkali bertentangan satu sama lain.

Hal lain yang menjadi polemik adalah bahwa HI belum bisa dikatakan sebagai sebuah ilmu. Itu karena HI belum sepenuhnya memenuhi syarat keilmuan, yaitu:
  • Secara ontologis, HI belum mempunyai obyek kajian yang jelas, apakah individu, organisasi, negara, dan lain sebagainya.
  • Secara epistemologis, HI belum memiliki metode yang jelas untuk dipergunakan, apakah metode scientific atau spekulatif.
  • Secara aksiologis, manfaat HI yang cikal bakalnya adalah mempelajari perang dan mencari solusi serta cara penghentiannya, belum bisa dirasakan sampai sekarang.(Hey,, Palestina sama Israel belum kelar-kelar tuh perangnya..)

Ilmu yang merupakan ilmu asal HI ada tiga, yaitu:
  • Sejarah diplomasi, dimana kajiannya dari traktat-traktat, perjanjian, catatan, dokumen negara dari pemimipin-pemimpin negara maupun dari diplomat, khususnya pada saat terjadinya perang.
  • Hukum, muncul secara konvensional misalnya dalam praktik antar-negara seperti pada praktik pengiriman utusan diplomasi atau pertukaran konsul. Selain itu juga terdapat pengkodifikasian (pembukuan) tentang perang dan damai.
  • Filsafat,,,, (yang ini berat untuk dijelaskan secara singkat)
Sementara yang menjadi core subject dalam HI antara lain: sejarah diplomasi, hukum internasional, organisasi internasional, politik luar negeri, politik internasional, dan ekonomi politik internasional.

Dalam mempelajari HI, kita perlu mengetahui isu-isu, yang sifatnya global, seperti: lingkungan, migrasi internasional, gender dan seksualitas, kedaulatan negara, pasar finansial global, konflik kebudayaan: Islam vs Barat, regionalisme dan integrasi, Hak Asasi Manusia, dan lain-lain. Singkatnya, isu HI tuh isu yang menjadi topik yang kita lihat di media-media, khususnya di segmen ‘internasional’, atau yang ada kata-kata ‘internasional’nya.

HI berperan dalam kemampuan globalisasi ekonomi dan perkembangan tantangan lain untuk mempengaruhi tingkat kedaulatan suatu negara. Apakah suatu negara akan terpuruk, atau malah berhasil beradaptasi, secara tradisi teoritisi HI akan mencoba mengevaluasi segala kemungkinan yang dapat terjadi dalam konteks interaksi tatanan negara di dunia internasional.


Sekian dulu penjelasan singkat yang bisa saya paparkan dalam HI 1.01 ini. Lebih lnjut, kalian bisa membaca textbook-textbook HI dengan berbagai macam jenisnya mulai dari buku teori, buku substansi, jurnal, dan lain-lain yang jumlahnya banyak banget.

Class dismissed..!

Thursday, June 9, 2011

Budaya Asing (oleh Jaya Suprana)

*Blogpost ini disalin dari buku Naskah-Naskah Kompas karya Jaya Suprana hal. 1-6.


"Sebagai warga Indonesia yang cinta dan bangga budaya bangsa sendiri, saya merasa jengkel melihat banyak sesama warga bangsa –terutama generasi muda- Indonesia begitu tergila-gila melahap “junk-food” hamburger, hot-dog, pop corn sambil minum Cola pakai celana jeans berT-shirt sekaligus topi pet (terbalik ke belakang) seragam baseball, sepatu sneakers, tukar-menukar koleksi kartu foto American-sportlers, berdendang rap, histeris menonton video-clip Eminem, film produksi Hollywood, memuja Kung Fu Boy, Spiderman, Doraemon, dan Mickey Mouse! Sanubari saya perih, teriris menyaksikan sikap dan perilaku bangsa dipengaruhi bahkan dijajah budaya asing! Tergugah gejolak risau imperialisme budaya, maka saya menulis naskah ini. Namun sampai di kalimat ini, mendadak kalbu saya terhenyak, tergertak beragam kenyataan!


Ternyata saya menulis naskah ini dengan menggunakan aksara berasal dari budaya Romawi dan angka berakar pada budaya Arab kuno. Di samping itu saya susun dengan computer yang pertama diperkenalkan tahun 1941 di Berlin, Jerman oleh Konrad Zuse atas inspirasi mesin-hitung Blaise Pascal asal Perancis, abad XVII dan abakus Babilonia, Abad III SM. Akibat mata saya sudah rabun maka saya pakai kacamata (berdasar ide Salvino Degli Armati di Florence, Italia, 1280). Kemudian naskah (berasal dari kata Arab: naskh) ini saya print (teknik cetak sudah hadir di dinasti Tang sekitar abad VII Masehi di Cina, dikembangkan Gutenberg di Jerman, 1447) di atas kertas (pertama diolah Tsai Lun di Cina, tahun 105) agar bisa saya kirim lewat jasa pos (perdana diorganisir Kyros, Raja Persia sekitar 550 SM) ke surat kabar (prototip media tulis berita-aktual, Acta Diurna, dirintis sekitar tahun 60 SM di Roma) yang kini sedang anda baca ini. Apabila saya kirim lewat teknologi e-mail dari namanya saja jelas bukan berasal dari kebudayaan Indonesia sendiri. Akibat gelisah merenung, butir-butir keringat menetes turun di samping kening sehingga perlu saya usap dengan saputangan (sudah digunakan di Cina sejak abad II SM). Untung, ada air-condition (kreasi Willis Carrier, USA, 1911) penyejuk ruang.


Jika tidak, kemeja sampai celana (busana tradisional suku nomadis penunggang kuda di stepa Asia) saya yang berbahan kapas (sudah dipintal di India sejak abad II SM) bisa basah-kuyup. Nasib baik, daya tahan tubuh saya kuat berkat selalu rajin minum jamu (Hura! Yang ini karya budaya Indonesia! Namun –sayang- pekik hura! Itu gaya Barat). Sebab jika sampai terlanjur jatuh sakit, terpaksa saya minum obat farmasi (obat tradisional budaya Barat) yang harus saya beli di apotek (distributor obat sistem budaya Barat, berasal dari kata Yunani: apotheke) dengan uang (mulai berperan untuk transaksi bisnis dalam bentuk kerang di kawasan Assyria era Neolithikum).


Andaikan saya ini bukan lelaki, namun perempuan, mungkin saya mempersolek diri dengan mengoles bibir dengan lipstick (bahasanya saja sudah Inggris), mempertegas alis mata dengan tarikan garis arang-hitam (seperti gaya Neferriti di Mesir abad XXIV SM), tubuh singset akibat setia minum jamu Galian Singset (nah, yang ini baru benar-benar karya budaya Indonesia asli!) tampak makin ramping berkat pola busana dijahit serasi lekuk-liku tubuh (metode olah-busana nomadis kawasan stepa Asia) didukung sarana BH (hak-paten Mary Jacob, USA yang pada 1937 dijual sebagai brassiere ke Warnes Bros Corset Company dengan harga US$ 1.500).


Lalu saya melihat ke sekeliling ruang. Ada alat musik pianoforte (buatan Jepang dengan mekanik kreasi Bartolomeo Cristofori, Italia, 1710). Di atas piano berserakan lembaran karya musik dengan notasi not-balok (pengembangan sistem catatan musik Yunani kuno) maupun angka (sintesa solmifasi Guido dari Arezzo, Italia dengan tablatura Spanyol kuno). Di sisi piano tersender sebuah rebab (berasal dari rabbab alat gesek tradisional Arab) yang lazim digunakan dalam orkes gamelan pengiring pergelaran wayang berlakon Mahabharata atau Ramayana (dua mahakarya sastra India Kuno). Di kamar (kamara = bahasa Teutonik-Perancis kuno) terdapat pula alat-alat lain seperti radio, televisi, VCR, CD, DVD, LD player, telefon yang semuanya teknologi budaya asing.


Ada pula rak-rak (pengaruh bahasa Belanda) penuh sesak dengan buku (sudah hadir di Cina abad II SM, dikembangkan di Eropa, antara abad II dan IV) filosofi, psikologi, sosiologi, antropologi, arkeologi, politikologi, teologi (semuanya ilmu budaya Barat) dalam bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Belanda, Indonesia (perpaduan dua kata Yunani: Indos = India dan Nesos = Kepulauan, pengganti Nederlandsch-Indie). Di dinding terpasang kalender (sistem Gregorianik, Italia sejak 1582, menyempurnakan sistem Julianus) menyadarkan bahwa saat naskah ini saya tulis adalah bulan Maret (berasal dari Martius, mengenang Mars, dewa mitologi Romawi) tahun 2004 (hitungan masehi yang berorientasi masa-lahir Jesus di kawasan Palestina kuno). Beberapa fotografi (pengembangan eksperimen Nicephone Niepce di Perancis, 1816) ikut menghias dinding.


Ruang kamar diterangi sinar lampu-pijar (ide Sir Humphrey Davy, Inggris, 1802) yang menyala berkat tenaga listrik (mesin pembangkit listrik dini digarap Otto von Guericke, Jerman, 1650. Namun istilah elektron sudah dicanangkan Thales dari Millet, filosof Yunani sejak abad VI SM).
Waktu makan siang sudah tiba. Ternyata lauk-pauk yang tersedia berupa telur (sudah mulai dilahap manusia sejak masa peradaban paling dini) dan tahu (makanan tradisional Cina) beserta nasi (padi jenis Oryza sativa sudah dibudidaya masyarakat India kuno sejak abad IV SM) yang saya makan dengan piring (tradisi Romawi), sendok-garpu (tradisi Turki kuno) di atas meja (sudah lazim digunakan kaum Viking di saat tidak berkeliaran di lautan). Air minum (saran ozonisasi ilmuwan Belanda, Martinus van Marum, 1783) saya teguk lewat sebuah bejana yang disebut gelas (bahasa Inggris kuno: glaes). Saya tidak duduk di atas lantai, namun di atas sebuah konstruksi bernama kursi (bahasa Arab). Setelah makan, saya sikat gigi (berasal dari Cina, akhir abad XV) dengan tapal gigi (ide ramuan Scribonius Lapinu, Italia menjelang abad II) di samping membersihkan slilit dengan dental floss (produk USA) karena tusuk gigi (sudah digunakan masyarakat Neanderthaler di area Balkan 50.000 tahun yang lalu!) kurang ideal bagi gigi-gigi saya berjarak terlalu rapat ini. Lalu saya berkumur air ledeng yang di samping sang kata, sang metode olah-salur meripakan warisan kolonialisme Belanda.


Usai proses higiene (Yunani: hugiene = seni-kesehatan) itu semua, saya meringis di depan cermin (teknik Mesir kuno) demi meyakini gigi-gigi benar-benar sudah bersih! Lalu saya mencuci mulut dan tangan dengan sabun (dipopulerkan oleh para serdadu Romawi yang meniru suku Gaul, Eropa Barat) dan mengeringkan diri dengan handuk (tradisi Turki kuno).


Tak terasa jarum jam (inspirasi sun-dial Mesir kuno dikembangkan di Eropa, abad pertengahan) sudah menunjuk pukul 23.00 Waktu Indonesia Bagian Barat (istilah arah mata-angin bahasa Sanskerta). Akibat terlalu letih merenungi pengaruh budaya asing, saya berbaring di ranjang (perabotan Firaun Mesir kuno, merakyat di Persia) dengan tentunya melepas sepatu (budaya Mesir kuno, abad V SM) beralas karet (masyarakat Maya menyelup bagian telapak kaki ke cairan caoutchouc sebagai pelindung luka) agar tidak mengotori seprei (pengaruh istilah Belanda) dan mengganti pakaian dengan piyama (busana tradisional India Timur yang dipopulerkan kaum kolonialis Inggris). Setelah kancing-kancing (pelengkap busana masyarakat lembah Indus, abad III SM) pakaian tidur saya tutup rapat, tidak lupa saya juga menutup jendela (bahasa Portugis: janela) kamar agar suara bising mobil (dipelopori Karl Benz di Jerman,1886) atau sepeda-motor (dirintis Eugene dan Michael Werner, Perancis, 1897) lalu-lalang di jalan raya (teknik melapis permukaan jalan “modern” pertama direkayasa John McAdam di Bristol, Inggris, 1815) tidak terlalu berisik mengganggu.


Sebelum lelap tertidur, saya (berasal dari bahasa Sanskerta) berdoa (bahasa Arab) demi mengucap syukur alhamdulillah (bahasa Arab), terima kasih tak terhingga kepada Allah (bahasa Arab) atas segenap rahmat, taufik, dan hidayat (semuanya bahasa Arab)Nya sehingga umat (bahasa Arab) manusia, termasuk saya dan Anda, dapat hidup bahagia dan sejahtera (dua-duanya: Sanskerta) di planet (dari kata Yunani: planetes) Bumi (Sanskerta) ini.


AMIN (bahasa Arab)."