Tuesday, September 21, 2010

Kenapa TimNas Inggris Gak Pernah Berprestasi (lagi)?



Ada beberapa alasan yang bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan dalam judul blogpost ini. Pertanyaan yang sudah menghantui insan sepak bola Inggris sejak tahun 1966, tahun dimana Inggris meraih satu-satunya gelar sepak bola internasional di tanahnya sendiri. Salah satu jawabannya saya simpulkan melalui perspektif globalisasi, dimana penyebab mandeknya prestasi Inggris sedikit banyak dipengaruhi oleh fenomena globalisasi yang melanda negeri mereka, khususnya liga mereka. Berikut penjelasannya.



Terlalu banyak pemain Inggris di Liga Inggris


Pernyataan sekaligus jawaban ini mungkin mengundang pertanyaan baru. Jika menilik data di Liga Inggris musim 2007/2008, dimana ketika itu Tim Nasional Inggris gagal mencapai putaran final kejuaraan Eropa 2008, jumlah pemain asal Inggris yang bermain di EPL (English Premier League) adalah 37% dari keduapuluh klub pesertanya. Secara harfiah, angka tersebut memang tidak menunjukkan dominasi pemain Inggris di liganya sendiri. Steven Gerrard, kapten Liverpool, juga berkilah bahwa sekarang Liga Inggris sudah seperti liganya para imigran. Pemain Inggris semakin sedikit yang beredar, sementara kedatangan pemain dari negeri lain semakin deras, begitu pula dengan datangnya pelatih dan investor asing. Tak pelak, arus globalisasi menjadi penyebab terjadinya fenomena migrasi ini. Namun mengapa saya menyebutkan bahwa ‘terlalu banyak pemain Inggris di Liga Inggris’?

Jika dibandingkan dengan persentase angka jumlah sisa pemain dari luar Inggris secara kesatuan, angka 37% memang jauh dibawah 63%. Namun jika negara-negara asal pemain dari luar Inggris tersebut dipisahkan satu persatu, maka tidak ada negara yang persentase angka jumlah pemainnya melebihi 37%. Mulai kelihatan disini dominasi pemain asli Inggris di liganya sendiri. Lalu, Apa kaitannya dengan prestasi Tim Nasional Inggris?

Banyak pendapat yang menyebutkan bahwa Liga Inggris merupakan liga dengan tingkat persaingan paling ketat. Dalam 7 musim terakhir, ada 3 klub yang menjadi juara liga dengan perbandingan Arsenal 1 kali, Manchester United 3 kali, dan Chelsea 3 kali. Bandingkan dengan liga Spanyol yang dalam kurun waktu yang sama juga memunculkan 3 klub juara liga, namun dengan perbandingan 1 (Valencia), 2 (Real Madrid), dan 4 (Barcelona). Sementara di Liga Italia perbandingannya 1 (AC Milan), 1 (Juventus –dicabut karena skandal calciopoli) dan 5 (Inter Milan).

Dibandingkan dengan liga-liga lain di Eropa yang hanya mempertandingkan 2 kejuaraan dalam satu musim kompetisi, liga Inggris mempertandingkan 3 kejuaraan. Selain league dan cup tournament, di liga Inggris juga ada league cup atau Piala liga. Belum lagi bagi klub-klub Big Four yang mengikuti Liga Champions, dimana pemain dari klub-klub tersebut biasanya menjadi langganan tim inti Inggris. Persaingan yang ketat dan padatnya jadwal demi meraih prestasi maksimal menjadi kendala bagi para pemain Inggris ketika mereka harus membela negaranya di ajang internasional, terutama dalam hal fisik.

Mari kita lihat komposisi pemain tim nasional Inggris pada Piala Dunia 2006 di Jerman. Dari 23 pemain, hanya 2 pemain yang bermain di luar liga Inggris yakni Owen Hargreaves yang saat itu membela Bayern Munchen, dan kapten David Beckham yang sedang berkostum Real Madrid. Dalam kampanyenya menuju putaran final Piala Eropa 2008, Hargreaves sudah pindah ke Manchester United, dan kursi pelatih diambil oleh Steve McClaren. Berbeda dengan pelatih sebelumnya, McClaren jarang memanggil David Beckham, yang kala itu telah hijrah ke LA Galaxy, dan sudah memasuki usia uzur sehingga rentan cedera. Sehingga pada akhirnya McClaren memanggil semua pemainnya untuk bertarung di ajang kualifikasi Euro08 dari Liga Inggris.

Masalah muncul karena jadwal kualifikasi Euro08 ditempatkan ditengah-tengah jalannya kompetisi Liga Inggris yang ketat dan padat. Alhasil para pemain tim nasional Inggris sudah lelah duluan sebelum bertanding di ajang internasional, dan kontribusi mereka menjadi tidak maksimal. Bahkan muncul anekdot yang menyebutkan bahwa “jadwal bela negara menggannggu jadwal bela klub”, atau yang lebih dikenal dengan istilah club versus country.

Jika kita lakukan perbandingan dengan mengambil contoh kasus di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, dimana Inggris dikalahkan oleh Jerman, maka gambarannya adalah sebagai berikut.

Jerman dan Inggris sama-sama menurunkan starting line-up yang berisikan pemain-pemain dari liga lokal masing-masing. Saya beranggapan bahwa tingkat persaingan Liga Jerman berada di bawah Liga Inggris.

Di kubu Jerman, cuma ada 3 nama yang merasakan persaingan ketat hingga musim kompetisi 2009/2010 benar-benar berakhir, yakni para punggawa Bayern Munchen yang bertarung di final Liga Champions: Phillip Lahm, Thomas Muller, dan Bastian Schweinsteiger, sementara Miroslav Klose jarang tampil sepanjang musim akibat cedera. Sisa pemain Jerman sepertinya sudah bisa “bersitirahat” sebelum musim 2009/2010 benar-benar berakhir karena klub yang mereka bela sudah keluar dari peta persaingan kompetitif untuk memperebutkan sesuatu di musim tersebut.

Sementara di kubu Inggris, cuma kapten Steven Gerrard, kiper David James, dan bek kanan Glen Johnson yang bisa dibilang “musimnya berakhir sebelum musim 2009/2010 benar-benar berakhir.” Wayne Rooney, Frank Lampard, John Terry dan Ashley Cole bersaing memperebutkan tahta Liga Inggris hingga pekan terakhir dan Piala FA hingga partai final. James Milner, Jermain Defoe, dan Gareth Barry bersaing hingga pekan akhir Liga untuk memperebutkan tiket sisa ke Liga Champions. Begitu juga dengan Matthew Upson yang berjuang hingga pekan akhir untuk meloloskan klubnya West Ham dari jurang degradasi. So, bisa dilihat tim mana yang pemain-pemainnya sudah kelelahan duluan.

Sebelum pertandingan melawan Jerman juga bisa dilihat bahwa Inggris kurang gereget untuk lolos dari babak penyisihan grup. Padahal sebelum Piala Dunia dimulai, Inggris digadang-gadang akan lolos dengan mulus karena saingan mereka “hanya” Amerika Serikat, Slovenia, dan Aljazair. Tapi nyatanya Inggris haru bersusah payah menang tipis atas Slovenia untuk memastikan diri lolos. Ini menandakan bahwa pemain Inggris seakan-akan sudah kehabisan tenaga untuk memberi kontribusi maksimal di ajang internasional, karena energi mereka sudah terkuras habis untuk mengarungi satu musim kompetisi Liga Inggris.


Mungkin ada baiknya jika pemain-pemain Inggris ada yang merantau ke liga-liga lain yang tingkat persaingannya berada di bawah Liga Inggris. Sehingga tenaga dan konsentrasi mereka akan bisa terfokus tatkala mereka dipanggil untuk mengenakan seragam The Three Lions di ajang internasional.

Saturday, September 18, 2010

Nomor Punggung Dalam Sepak Bola

Dalam sepak bola, nomor punggung pemain merupakan salah satu hal yang memiliki ciri khas tersendiri. Selain fungsi utamanya sebagai patokan bagi wasit dan jajaran ofisial pertandingan dalam mengawasi perilaku pemain ketika mereka bertanding, nomor punggung ternyata bisa digunakan juga untuk menunjukkan identitas si pemakainya. Bahkan ada juga nomor punggung yang dianggap membawa keberuntungan bagi sang pemain. Blogpost saya kali ini akan membahas sejarah singkat dan sekelumit kisah menarik sekitar nomor punggung pemain dalam sepak bola.


Sejarah Singkat

Sebelum 25 Agustus 1928, sepak bola belum mengaplikasikan nomor punggung kepada pemainnya. Hal ini ternyata dianggap menyulitkan bagi pengadil di lapangan terutama ketika mereka hendak menghukum pemain yang telah berulang kali melakukan pelanggaran keras. Oleh karena itu, Football Association (FA) di Inggris mulai memberlakukan sistem nomor punggung yang dikenakan oleh tiap pemain yang bertanding, lebih tepatnya dalam pertandingan antara Sheffield Wednesday melawan Arsenal pada tanggal yang disebutkan di awal paragraf.

Pada saat itu, dimana sepak bola masih berada di awal perkembangannya, sistem nomor punggung diatur berdasarkan posisi starting line-up di lapangan. Jadi nomor punggung pemain bergantung pada statusnya sebagai pemain utama atau tidak, dan di posisi mana dia ditempatkan. Dan formasinya adalah sebagai berikut:
  1. Penjaga gawang
  2. Bek tengah-kanan
  3. Bek tengah-kiri
  4. Gelandang bertahan-kanan
  5. Gelandang bertahan-tengah
  6. Gelandang bertahan-kiri
  7. Sayap kanan
  8. Gelandang serang-kanan
  9. Penyerang tengah
  10. Gelandang serang-kiri
  11. Sayap kiri
Formasi dan penomoran seperti di atas diadopsi dari Liga Inggris, sebagai liga yang pertama kali menerapkan sistem nomor punggung. Seiring perkembangannya, nomor punggung mulai diwajibkan dalam pertandingan sepak bola resmi, meskipun penerapannya baru bisa dilakukan secara lebih menyeluruh di banyak negara setelah Perang Dunia 2 berakhir.

Di ajang Piala Dunia, nomor punggung mulai dipergunakan pada edisi keempat di tahun 1950 di Brazil. Sistem penomoran masih menggunakan cara klasik, berdasarkan status starting line-up dan posisi si pemain. Tim tuan rumah tidak serta-merta mengadopsi formasi a la Inggris, dan meramu formasinya sendiri, seperti pada gambar berikut.











Tim-tim lain juga banyak yang menggunakan formasi bakunya masing-masing. Formasi yang umumnya digunakan pada saat itu adalah 4-4-2, 4-2-4, dan 4-3-3. Para pemain belakang mayoritas menggunakan nomor punggung 2,3,4, dan 6. Sementara pemain gelandang tengah, umumnya mengenakan nomor punggung 5 dan 8. Pemain sayap banyak yang menggunakan 7 dan 11, sementara untuk gelandang serang dan para striker acapkali mengenakan nomor 9 dan 10. Semua tim memberikan nomor punggung 1 kepada penjaga gawangnya.

Fixed Squad Number

Sistem nomor punggung yang ditetapkan kepada masing-masing pemain selama penyelenggaraan turnamen mulai dipergunakan pada Piala Dunia 1954 di Swiss. Satu tim yang beranggotakan 22 orang pemain, harus mendaftarkan para pemain beserta nomor punggungnya sebelum turnamen berlangsung kepada panitia penyelenggara. Setiap negara peserta pada saat itu masih terpaku pola pemberian nomor punggung lama –bergantung pada status starting line-up dan posisi.

Cerita unik muncul pada penyelenggaraan Piala Dunia 1958 di Swedia, ketika tim juara pada saat itu, Brazil, ternyata lupa menyerahkan daftar nomor punggung bagi setiap pemainnya. Keputusan yang diambil adalah, wasit yang bertindak pada pertandingan pertama Brazil, Lorenzo Vilizzio asal Uruguay, memberikan nomor punggung bagi setiap pemain Brazil secara acak. Penjaga gawang Gilmar mendapatkan nomor punggung 3, Garrincha mendapatkan nomor 11, dan yang mendapatkan nomor punggung 10 adalah penyerang muda mereka, Péle. Talenta atraktif Péle pada Piala Dunia 1958 membawa Brazil ke tahta juara, dan mulai saat itu Péle selalu mengenakan nomor punggung 10 baik di Tim Nasional Brazil maupun di klubnya Santos. Hmmm, jika saat itu Vilizzio menyuruh Péle memakai nomor punggung 5, mungkin nomor punggung itulah yang hingga sekarang dianggap sebagai nomor punggung keramat dalam sepak bola.

Cerita unik lainnya datang dari musuh bebuyutan Brazil, yakni Argentina. Pada penyelenggaraan Piala Dunia 1974, 1978, dan 1982, mereka memberikan nomor punggung kepada setiap pemainnya secara alfabetis. Namun pada Piala Dunia 1982, Maradona tetap diberikan nomor punggung 10, meskipun secara alfabetis seharusnya ia tidak mendapatkan nomor tersebut. Di tahun yang sama, Inggris juga menerapkan sistem pemberian nomor punggung yang sama –secara alfabetis namun mereka memberikan perlakuan khusus pada penjaga gawang, yang mengenakan nomor punggung 1, dan kapten tim Kevin Keegan, yang mengenakan nomor punggung 7.


Nomor Punggung di Era Sepak Bola Modern

Sejak tahun 2002, FIFA menekankan kepada setiap negara peserta Piala Dunia dan turnamen konfederasi antarnegara untuk menetapkan nomor punggung 1 sampai 23 kepada setiap tim, yang tentunya berisikan 23 pemain, dengan minimal menyertakan 3 nama penjaga gawang. Baru-baru ini, FIFA mewajibkan kepada setiap negara peserta turnamen besar antar-negara untuk memberikan nomor punggung 1 kepada penjaga gawang (baik utama maupun tidak). Di tahun yang sama, pada penyelenggaraan Piala Dunia Korea Selatan-Jepang, Argentina sempat meminta izin kepada FIFA untuk ‘mempensiunkan’ nomor punggung 10 sebagai penghormatan kepada Diego Maradona, dan mengganti nomor punggung 10 dengan nomor 24. Namun FIFA menolak permohonan izin tersebut.


 
Untuk level liga, hampir semua liga di dunia tidak mengizinkan klub-klub pesertanya untuk mengganti nomor punggung pemainnya ketika liga berlangsung selama 1 musim. Pemain hanya boleh mengganti nomor punggung apabila ia pindah ke klub lain di tengah kompetisi.
Pencetakan nama pemain di atas nomor punggung dimulai pada musim 1993-1994 di Liga Premier Inggris. Sistem ini mulai diikuti oleh banyak liga di berbagai negara juga di pertandingan internasional antar-negara dalam kurun waktu 5 tahun berikutnya, meskipun masih ada klub yang tidak mencantumkan nama pemainnya di atas nomor punggung. Pada akhirnya keputusan untuk menyertakan nama pemain di atas nomor punggung diwajibkan oleh FIFA untuk pertandingan resmi di ajang atau turnamen besar seperti Piala Dunia, Olimpiade, atau kejuaraan regional antar-negara. Sementara untuk liga tidak diwajibkan.

Di banyak liga, pemain bebas mengenakan nomor punggung berapa saja antara 1 sampai 99, asalkan nomor tersebut tetap digunakan oleh si pemain selama 1 musim kompetisi. Pengecualian ada di Liga Spanyol, dimana setiap klub peserta harus menyerahkan daftar nama pemain seniornya yang berjumlah 25 pemain dengan minimal penjaga gawang 2 orang dan maksimal 3 orang, dengan nomor punggung 1 sampai 25. Penjaga gawang juga diwajibkan mengenakan seragam nomor punggung 1 atau 13 atau 25. Sementara nomor punggung 26 ke atas dikhususkan untuk pemain-pemain dari tim junior.


Nomor Punggung Unik

Dalam sejarah sepak bola, ada beberapa pemain yang mengenakan nomor punggung yang tak lazim. Tindakan ini mereka lakukan dengan berbagai macam alasan, seperti mencari alternatif karena nomor punggung kesayangan mereka sudah digunakan pemain lain, atau hanya untuk mencari sensasi. Bisa juga untuk memperingati sesuatu seperti perjalanan karir atau hal lainnya. Berikut adalah sebagian dari ‘nomor cantik’ tersebut.
  • Ketika bermain untuk Aberdeen di Liga Skotlandia, Hicham Zerouali mengenakan nomor punggung 0, sesuai dengan panggilan suporter klub tersebut kepadanya, “Zero”.
  • Pemain asal Yunani Pantelis Kafes yang bukan seorang penjaga gawang, mengenakan nomor punggung 1 tatkala memperkuat Olympiakos Piraeus dan kini di AEK Athens. Begitu juga dengan Simon Vukcevic di Partizan Belgrade dan Stuart Balmer di Charlton Athletic.
  • Vitor Baía mengenakan nomor punggung 99 ketika membela FC Porto, termasuk di final Piala UEFA 2003 dan final Liga Champion Eropa 2004.
  • Freddy Rincon mengenakan nomor punggung 3+5 ketika membela Santos di Campeonato Paulista Brazil.
  • Kiper produktif Sao Paulo, Rogerio Ceni, mengenakan seragam dengan nomor punggung 01.

  • Kiper Parma, Luca Bucci mengenakan nomor punggung 5 pada musim 2005-2006, dan mengubahnya menjadi nomor 7 pada 2 musim berikutnya.
  • Ketika membela Villareal, Juan Pablo Sorin beberapa kali terlihat menambahkan tanda “+” diantara nomor punggung 12-nya. Hal ini ia lakukan karena nomor punggung 3 kesayangannya sudah lebih dulu dipakai oleh Rudolfo Arruabarrena.
  • Sejak musim 1997-1998 hingga akhir musim 1999-2000, striker Inter Milan asal Cile Ivan Zamorano mengenakan seragam dengan nomor 1+8, karena nomor punggung 9 favoritnya diberikan kepada Ronaldo.

  • Pada musim 2008-2009, 3 pemain AC Milan mengenakan nomor punggung sesuai tahun lahir mereka masing-masing, yakni Andriy Shevchenko (76), Ronaldinho (80), dan Mathieu Flamini (84).
  • Firman Utina mengenakan nomor punggung 8+7 tatkala berlabuh ke Persija pada pertengahan musim 2009-2010, karena nomor punggung 15 yang biasa ia pakai sudah lebih dulu dikenakan oleh Aliyudin.
  • Karena Konfederasi Sepak Bola Asia mewajibkan tim pesertanya untuk menggunakan nomor punggung yang sama pada setiap pemain saat babak kualifikasi, Thomas Oar mengenakan nomor punggung 121 ketika menghadapi Indonesia.

  • Dalam Merseyside Derby tahun 2006 antara Liverpool melawan Everton, masing-masing pemain bernomor punggung 8 dari setiap tim mengenakan nomor “08”. Hal ini bertujuan untuk merayakan keberhasilan kota Liverpool yang ditunjuk sebagai European Capital of Culture di tahun 2008.
  • Pada 2007 dalam pertandingan persahabatan melawan Brazil, Tugay Kerimoglou mengenakan nomor punggung 94, menandakan jumlah capsnya bersama tim nasional Turki, yang juga menjadi penampilan terakhirnya bersama tim nasional.
  • Pada pertandingannya yang ke-618 untuk Sao Paulo, kiper Rogerio Ceni mengenakan nomor punggung 618, yang tercatat sebagai nomor punggung terbesar yang pernah dikenakan dalam sejarah sepak bola.